Henry Alexander Murray dilahirkan di New York pada tanggal 13 Mei
1893 dan meninggal pada tahun 1988. Sama seperti pandangan psikoanalisa,
Henry Murray juga berpendapat bahwa kepribadian akan dapat lebih mudah
dipahami dengan cara menyelidiki alam ketidaksadaran seseorang
(unconscious mind). Murray menjadi professor psikologi di Harvard
University dan mengajar disana lebih dari 30 tahun.
Peranan Murray di bidang psikologi adalah dalam bidang diagnosa
kepribadian dan teori kepribadian. Hasil karya terbesarnya yang sangat
terkenal adalah teknik evaluasi kepribadian dengan metode proyeksi yang
disebut dengan “Thematic Apperception Test (TAT)”. Test TAT ini terdiri
dari beberapa buah gambar yang setiap gambar mencerminkan suatu situasi
dengan suasana tertentu. Gambar-gambar ini satu per satu ditunjukkan
kepada orang yang diperiksa dan orang itu diminta untuk menyampaikan
pendapatnya atau kesannya terhadap gambar tersebut. Secara teoritis
dikatakan bahwa orang yang melihat gambar-gambar dalam test itu akan
memproyeksikan isi kepribadiannya dalam cerita-ceritanya. (www.wikipedia.com).
a. Teori Personologi.
Murray berpandangan bahwa manusia harus difahami sebagai kesatuan
pribadi yang utuh. Sebagian tingkah laku manusia harus difahami dari
hubungannya dengan fungsi lainnya, seperti lingkungan, pengalaman masa
lalu, ketidak sadaran dan kesadaran, serta fungsi otaknya. Kesemuanya
itu harus ditangkap secara keseluruhan agar dapat difahami makna dari
proses kepribadian seseorang. Teori kepribadian memang memberi
hukum-hukum yang mungkin berlaku umum bagi setiap orang, namun pemahaman
tentang diri seseorang harus didilakukan secara personal. Berdasarkan
pemikiran inilah ia menamakan teorinya “personologi” untuk menekankan
bahwa psikologi kepribadian seharusnya mengkonsentrasikan diri pada
kasus individual: pribadi.
Teori ini terfokus pada individu-individu dengan seluruh kompleksitasnya
dan segi pandangan ini diringkaskan dengan istilah personologi, yang
diciptakan oleh Murray (1983), untuk memberi label bagi usaha-usahanya
sendiri dan usaha orang lain yang memiliki keprihatinan mendalam untuk
memahami individu secara penuh. Secara konsisten Muray menekankan
kualitas organic tingkah laku dengan menyatakan bahwa satu bagian
tingkah laku tidak dapat dipahami terlepas dari semua bagian lainya
dalam pribadi yang berfungsi.
Masa lampau individu benar-benar sama pentingnya seperti keadaan
individu beserta lingkungannya di masa kini. Kesamaan teori ini dengan
teori psikoanalisis adalah penekanan tentang pentingnya motivasi tak
sadar dan perhatian yang mendalam pada laporan verbal individu yang
bersifat subjektif termasuk khayalannya. Dalam banyak hal, ciri yang
paling khusus dari teori ini adalah pembahasannya sangat terinci dan
sangat seksama tentang motivasi. Bagan konsep motivasi Muray telah
digunakan secara luas dan sangat berpengaruh. Ciri khusus selanjutnya
dari teori ini adalah tekanan yang konsisten pada proses fisiologis yang
terjalin secara fungsional, yang mengiringi semua proses psikologis.
Menurut Murray (Lindzey, 1993), kepribadian adalah abstraksi yang
dirumuskan oleh teoritisi dan bukan semata-mata deskripsi tingkah laku
orang, karena rumusan itu didasarkan pada tingkah laku yang dapat
diobservasi dan factor-faktor yang dapat disimpulkan dari observasi itu.
Prinsip-prinsip pokok dasari teori kepribadian Murray adalah:
1. Proses Psikologis bergantung kepada proses fisiologis. Bagi Murray
kepribadian muthlak tergantung kepada fungsi system syaraf. Peran otak
untuk mengontrol dan memproses semua aspek kepribadian yang eksis di
otak seperti perasaan, kesadaran, ingatan, keyakinan, sikap, ketakutan,
niali-nilai, dan aspek-aspek lainnya disebut regnant.
2. prinsip mencakup semua hal (all-embarcing principle): kepribadian
dalam konsep yang dapat menjelaskan tingkah laku. Para Freudian
berpendapat bahwa orang bertingkah laku untuk menghilangkan tegangan dan
mendapatkan kepuasan, tetapi menurut Murray, bukan bebas tanpa tegangan
yang diinginkan dan yang memuaskan organisme. Kepuasan itu diperoleh
dari melakukan aktivitas, proses mengurang tegangan atau mengubah
tingkat kebutu3han tegangan (need-induced tension). Keadaan tanpa
tegangan justru menjadi sumber distress, karena manusia terus-menerus
memiliki keinginan merasa senang, aktif, maju, bergerak dan berusaha,
yang smuanya itu adalah peningkatan tegangan, bukan peredaan tegangan.
Jadi organisme justru menciptakan tegangan untuk memperoleh kepuasan
dari atiivitas memuaskan kebutuhan.
3. organisasi longitudinal, yaitu anggapan bahwa terdapat pusat yang
mengorganisir dan mengatur proses dalam diri individu,proses yang
fungsinya untuk mengintegrasikan kekuatan yang sling bertentangan yang
dihadapi individu, memuaskan kebutuhan individu, dan merencanakan
pencapaian tujuan individu.
b. Struktur Kepribadian
Cara Muray merumuskan kepribadian menunjukkan bahwa ia sangat
berorientasi pada pandangan yang memberi bobot memadai pada sejarah
organisme, fungsi kepribadian yang bersifat mengatur, ciri-ciri
berulang dan baru pada tingkah laku individu, hakikat kepribadian yang
abstrak dan proses fisiologis yang mendasari proses psikologis.
Id-Ego-Superego
Murray sebenarnya juga seorang psikoanalis, pelopor penelitian
fikiran-fikiran psikoanalitik yang berusaha menerjemahkan konsep-konsep
Freud dan Jung kedalam hypothesis yang dapat diuji. Menurut Murray
(Alwisol:2007), masa lalu, masa kini dan masa yang akan dating memiliki
bobot yang setara untuk menentukan tingksh laku, sehingga motivasi tak
sadar menjadi tidak terlalu penting. Ia masih memakai konstruk
Id-Ego-Superego, meskipun dengan pengertian yang berbeda, yaitu:
1. Id, Murray menambahkan dari teori freud tentang id, bahwa menurutnya
id tidak hanya berisi impulsive primitif, amoral, dan kenikmatan, tetapi
juga berisi impuls yang dapat diterima baik dan diharapkan masyarakat
seperti empati,cinta dan memahamui lingkungan.
2. Ego, Murray memberi peran ego lebih luas dari freud. Menurutnya
sebagai unsure rasional dari kepribadian, ego bukan hanya melayani,
mengubah arah, dan menunda impuls id yang tak terima, tetapi ego juga
menjadi pusat pengatur semua tingkah laku, mencari membuat peluang untuk
memperoleh kepuasan id positif.
3. superego, Murray menekankan pada pentingnya pengaruh kekuatan
lingkungan social atau kultur dalam kepribadian. Ia menolak pendapat
freud bahwa superego telah terkristalisali pada usia 5 tahun. Menurutnya
superego terus-menerus berkembang sepanjang hayat merefleksikan
pengalaman manusia yang semakin dewassa semakin kompleks dan canggih.
Penting untuk diperhatikan bahwa konsepsi Muray tentang superego dan ego
ideal memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi perubahan dan
perkembangan dalam tahun sesudah masa kanak-kanak. Muray menekankan
pembentukan-pembentukan kepribadian yang lebih positif. Ia yakin bahwa
ada proses formatif dan konstruktif yang tidak hanya berguna bagi
kelangsungan hidup, tetapi juga memiliki energi, tujuan dan
pemenuhan-pemenuhannya sendiri. Imajinasi yang kreatif merupakan aspek
kepribadian yang paling kuat dan merupakan aspek yang kerapkali paling
sedikit diberi kesempatan untuk berkembang.
c. Dinamika Kepribadian
Teori Murray yang paling khas dalam Psikologi adalah tentang perjuangan,
pencarian, keinginan, hasrat dan kemauan manusia. Kebanyakan orang
menganggap teori dari Murray merupakan teori motivasi atas dasar adanya
konsep kebutuhan. Konsep kebutuhan yang dimaksud Murray yaitu
menggambarkan factor-faktor penentu tingkah laku penting dalam pribadi.
Dalam membahas teori Murray, konsep kebutuhan merupakan pembahasan
pertama, selanjutnya adalah tekanan, reduksi tegangan, tema, integrasi
kebutuhan, tema kesatuan dan regnansi lalu konsep tentang nilai dan
faktor.
Murray menyatakan bahwa kebutuhan merupakan sesuatu yang abstrak, tetapi
berkaitan dengan proses-proses fisiologis dalam otak. Beberapa
kebutuhan dibarengi oleh emosi-emosi tertentu dan seringkali dibarengi
oleh tindakan tertentu untuk menghasilkan keadaan akhir yang efektif.
Murray menyatakan bahwa adanya kebutuhan dapat disimpulkan dari:
a) akibat atau hasil akhir tingkah laku
b) pola atau cara khusus tingkah laku yang bersangkutan
c) perhatian dan respon selektif terhadap kelompok objek stimulus tertentu
d) ungkapan emosi atau perasaan tertentu
e) kekecewaan apabila tidak tercapai sesuatu yang diinginkan
Tipe-tipe kebutuhan
Ada beberapa hal yang penting untuk membedakan aneka tipe kebutuhan, diantaranya:
1) ada perbedaan antara kebutuhan-kebutuhan primer dan kebutuhan-kebutuhan sekunder.
2) Ada perbedaan antara kebutuhan-kebutuhan terbuka dan kebutuhan-kebutuhan tertutup.
3) Ada kebutuhan yang memusat dan kebutuhan yang menyebar.
4) Ada kebutuhan proaktif dan kebutuhan reaktif.
5) Terdapat perbedaan antara kegiatan proses, kebutuhan-kebutuhan modal dan kebutuhan-kebutuhan akibat
Kebutuhan-kebutuhan itu tidak dapat bekerja sendiri-sendiri dan bentuk
interaksi antara kebutuhan yang satu dengan yang lain sangat penting.
Tekanan
Konsep tekanan menggambarkan factor-faktor penentu tingkah laku yang
efektif dan penting dalam lingkungan. Maksudnya orang yang memudahkan
atau menghalangi usaha individu untuk mencapai tujuan tertentu.
Reduksi tegangan
Sama seperti freud, Secara umum Murray berpendapat bahwa manakala
bangkit need, orang berada dalam tension, dan kepuasanlah yang mereduksi
tension. Murray menambahkan dua hal. Pertama, orang sering secara aktif
berusaha mengembangkan atau meningkatkan tension dalam rangka
meningkatkan kenikmatan yang mengikuti tension reducsion. Kedua, pada
jenis need tertentu, seperti hal yang terlibat dengan permainan drama
atau aktivutas artistic, kesenangan yang membarengi kegiatan itu
termasuk dalam pemuasan need. Jadi kepuasan tidak hanya diperolehdari
tercapinya tujuan, tetapi terlibat dalam suatu aktivitas, tidak peduli
tension menjadi turun atau malah naik, dapat memberi kepuasan.
Tema
Tema menyangkut interaksi antara kebutuhan dan tekanan. Ada macam-macam
tema, mulai dari perumusan yang sderhana tentang interaksi subjek sampai
pada perumusan yang lebih umum.
Integrasi kebutuhan
Integrasi kebutuhan adalah kebutuhan untuk mengadakan bentuk interaksi tertentu dengan tipe orang atau objek tertentu.
Tema kesatuan
tema kesatuan pada hakikat nya merupakan kesatuan antara kebutuhan dan
tekanan yang berhubungan dan diperoleh dari pengalaman kanak-kanak dan
yang memberikan arti serta kesatuan pada bagian terbesar tingkah laku
individu.
Regnan
proses regnan adalah proses fisiologis yang mengikuti proses psikologi yang dominant.
Nilai dan Vektor
Nilai dan factor merupakan gambaran akhir dari tingkah laku. Sedangkan
vector merupakan kecenderungan bertindak. Murray mengelompokkan vector
menjadi sebelas vector.
Perkembangan kepribadian
Kompleks-kompleks anak-anak
Teori Murray mengenai perkembangan kepribadian bersifat longitudinal,
menekankan pada perkembangan sejarah individu. Pendekatannya mirip teori
freud, dengan elaborasi dan perluasan yang lebih komprehensif.
Murray membagi masa anak-anak menjadi lima tahapan, masing-masing
ditandai oleh kondisi kepuasan yang dipengaruhi oleh tuntutan lingkungan
dan memberi kesan yang mengarahkan tingkah laku pada perkembangan
berikutnya.
Lima kondisi tahapan perkembangan anak dan kompleks yang terlibat, adalah:
a) Kompleks Klaustral
b) Kompleks Oral
c) Kompleks Anal
d) Kompleks Uretral
e) Kompleks Kastrasi
Bagi Murray kepribadian adalah hasil akumulasi interaksi antara proses
kematangan genetic dengan factor empiric. Ini karena dua hal, pertama
kepribadian berhubungan dengan struktur dan fungsi otak. Kedua, semua
tingkah laku merupakan proses interaksi antara orang dengan
lingkungannya. Determinan maturasi genetic dari kepribadian bersifat
fundamental karena dibawa sejak lahir, sedangkan factor lingkungan atau
pengalaman menjadi penentu yang kuat karena menjadi sarana perwujudan
dari kematangan genetic.
d. Kekurangan :
1. Tidak terdapat sekumpulan asumsi psikologis yang dikaitkan secara
eksplisit yang berhubungan dengan konsep2 yang sama, sehingga
menghasilkan prediksi yang dapat diuji.
2. Teori murray lemah karena tidak mampu menjelaskan bagaimana motif2 berkembang.
e. Kelebihan :
1. TAT di gunakan sampai sekarang
Sumber : Psikologiuhuuuy.wordpress.com
Kamis, 07 Juni 2012
ANDRAGOGI
1.Pengertian
Teori Belajar Andragogi
Andragogi berasal dari
bahasa Yunani kuno: "aner", dengan akar kata andr, yang berarti orang dewasa,
dan agogus yang berarti membimbing atau membina. Istilah lain yang sering
dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata
"paid" artinya anak dan "agogus" artinya membimbing atau memimpin. Dengan
demikian secara harfiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau
memimpin atau mengajar anak. Karena pengertian pedagogi adalah seni atau
pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah
pedagogi untuk kegiatan pendidikan atau pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak
tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Banyak praktik proses belajar
dalam suatu pelatihan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya
bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini
prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat
diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa.
Dengan demikian maka kalau
ditarik pengertiannya sejalan dengan pedagogi, maka andragogi secara harfiah
dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Namun karena orang
dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri,
maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah
kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan
bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered
Training/Teaching).
2.
Perkembangan
Teori Belajar Andragogi
Malcolm Knowles
dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A Neglected Species"
yang diterbitkan pada tahun 1970 mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi
orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh
berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan.
Sebelum muncul Andragogi,
yang digunakan dalam kegiatan belajat adalah Pedagogy. Konsep ini menempatkan
murid/siswa sebagai obyek di dalam pendidikan, mereka mesti menerima pendidikan
yang sudah di setup oleh sistem pendidikan, di setup oleh gurunya/pengajarnya.
Apa yang dipelajari, materi yang akan diterima, metode panyampaiannya, dan
lain-lain, semua tergantung kepada pengajar dan tergantung kepada sistem. Murid
sebagai obyek dari pendidikan.
Kelemahannya Pedagogi
adalah manusia (dalam hal ini adalah siswa) yang memiliki keunikan, yang
memiliki talenta, memiliki minat, memiliki kelebihan, menjadi tidak berkembang,
menjadi tidak bisa mengeksplorasi dirinya sendiri, tidak mampu menyampaikan
kebenarannya sendiri, sebab yang memiliki kebenaran adalah masa lalu, adalah
sesuatu yang sudah mapan dan sudah ada sampai sekarang. Perbedaan bukanlah
menjadi hal yang biasa, melainkan jika ada yang berbeda itu akan dianggap
sebagai sebuah perlawanan dan pemberontakan. Pedagogy memiliki kelebihan, yakni
di dalam menjaga rantai keilmuan yang sudah diawali oleh orang-orang terdahulu,
maka rantai emas dan benang merah keilmuan bisa dilanjutkan oleh generasi
mendatang. Generasi mendatang tidak perlu mulai dari nol lagi, melainkan tinggal
melanjutkan apa yang sudah ditemukan, apa yang sudah dirintis, apa yang sudah
dimulai oleh generasi mendatang.
Dalam Andragogy inilah,
kita kenal istilah-istilah Enjoy Learning, Workshop, Pelatihan Outbond,dll, dan
dari konsep Pendidikan Andragogy inilah kemudian muncul konsep-konsep
Liberalisme pendidikan, Liberasionisme pendidikan dan Anarkisme pendidikan.
Liberalisme pendidikan bertujuan jangka panjang untuk melestarikan dan
memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa
sebagaimana cara menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari
secara efektif. Liberasionisme pendidikan adalah sebuah sudut pandang yang
menganggap bahwa kita musti segera melakukan perombakan berlingkup besar
terhadap tatanan politik (dan pendidikan) yang ada sekarang, sebagai cara untuk
memajukan kebebasan-kebebasan individu dan mempromosikan perujudan
potensi-potensi diri semaksimal mungkin. Bagi pendidik liberasionis, sekolah
bersifat obyektif namun tidak sentral dan sekolah bukan hanya mengajarkan pada
siswa bagaimana berpikir yang efektif secara rasional dan ilmiah, melainkan juga
mengajak siswa untuk memahami kebijaksanaan tertinggi yang ada di dalam
pemecahan-pemecahan masalah secara intelek yang paling meyakinkan. Dengan kata
lain, liberasionisme pendidikan dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran yang
terbuka. Secara moral, sekolah berkewajiban mengenalkan dan mempromosikan
program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa.
Sekolahpun harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan yang didukung
oleh sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada. Hal ini sejalan
dengan pendapat Aristoteles tentang prinsip pendidikan yaitu sebagai wahana
pengkajian fakta-fakta, mencari ‘yang obyektif’, melalui pengamatan atas
kenyataan. Anarkisme pendidikan pada umumnya menerima sistem penyelidikan
eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah).
Tetapi berbeda dengan liberal dan liberasionis, anarkisme pendidikan beranggapan
bahwa harus meminimalkan dan atau menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan
terhadap perilaku personal, bahwa musti dilakukan untuk membuat masyarakat yang
bebas lembaga. Menurut anarkisme pendidikan, pendekatan terbaik terhadap
pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan untuk mempercepat perombakan
humanistik berskala besar yang mendesak ke dalam masyarakat, dengan cara
menghapuskan sistem persekolahan sekalian.
3.
Asumsi-Asumsi Pokok Teori Belajar Andragogi
Malcolm Knowles (1970)
dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai
berikut:
a.
Konsep
Diri:
Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang bergerak dari
ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri
sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain
dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung
sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian
inilah orang dewasa membutuhkan memperoleh penghargaan orang lain sebagai
manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination), mampu
mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak
menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya
penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan
atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan
psikologis yang dalam agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi
tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara.
Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.
Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pelatihan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pelatihan.
b.
Peranan Pengalaman:
Asumsinya adalah bahwa
sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke
arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan
mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini
menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang demikian kaya, dan pada
saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar
dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pelatihan atau
pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal
seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih
mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan
"Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman).
Hal in menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik
kepelatihan. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi
kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapang, melakukan praktek
dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta
atau partisipasi peserta pelatihan.
c.
Kesiapan Belajar
: Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan
perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau
paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh
tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Pada seorang
anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologiknya. Tetapi pada orang
dewasa siap belajar sesuatu karena tingkatan perkembangan mereka yang harus
menghadapi dalam peranannya sebagai pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi.
Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pelatihan
tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan
kebutuhan yang sesuai dengan peranan sosialnya.
d.
Orientasi
Belajar:
Asumsinya yaitu bahwa pada anak orientasi belajarnya seolah-olah sudah
ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi
pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang
dewasa mempunyai kecenderungan memiliki orientasi belajar yang berpusat pada
pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal
ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa seolah-olah merupakan kebutuhan untuk
menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam
kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa. Selain itu, perbedaan
asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang
dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam
waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu
hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa
belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih
tinggi. Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau
pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat
praktis dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.
4.
Andragogi
dan Psikologi Perkembangan
Seperti telah disebutkan
di atas bahwa dalam diri orang dewasa sebagai siswa yang sudah tumbuh kematangan
konsep dirinya timbul kebutuhan psikologi yang mendalam yaitu keinginan
dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi utuh yang mengarahkan
dirinya sendiri. Namun, tidak hanya orang dewasa tetapi juga pemuda atau remaja
juga memiliki kebutuhan semacam itu. Sesuai teori Peaget (1959) mengenai
perkembangan psikologi dari kurang lebih 12 tahun ke atas individu sudah dapat
berfikir dalam bentuk dewasa yaitu dalam istilah dia sudah mencapai perkembangan
pikir formal operation. Dalam tingkatan perkembangan ini individu sudah dapat
memecahkan segala persoalan secara logik, berfikir secara ilmiah, dapat
memecahkan masalah-masalah verbal yang kompleks atau secara singkat sudah
tercapai kematangan struktur kognitifnya. Dalam periode ini individu mulai
mengembangkan pengertian akan diri (self) atau identitas (identitiy)
yang dapat dikonsepsikan terpisah dari dunia luar di sekitarnya. Berbeda dengan
anak-anak, di sini remaja (adolescence) tidak hanya dapat mengerti
keadaan benda-benda di dekatnya tetapi juga kemungkinan keadaan benda-benda itu
di duga. Dalam masalah nilai-nilai remaja mulai mempertanyakan dan
membanding-bandingkan. Nilai-nilai yang diharapkan selalu dibandingkan dengan
nilai yang aktual. Secara singkat dapat dikatakan remaja adalah tingkatan
kehidupan dimana proses semacam itu terjadi, dan ini berjalan terus sampai
mencapai kematangan.
Dengan begitu jelaslah
kiranya bahwa pemuda (tidak hanya orang dewasa) memiliki kemampuan memikirkan
dirinya sendiri, dan menyadari bahwa terdapat keadaan yang bertentangan antara
nilai-nilai yang dianut dan tingkah laku orang lain. Oleh karena itu, dapat
dikatakan sejak pertengaham masa remaja individu mengembangkan apa yang
dikatakan "pengertian diri" (sense of identity).
Pembelajaran yang
diberikan kepada orang dewasa dapat efektif (lebih cepat dan melekat pada
ingatannya), bilamana pembimbing (pelatih, pengajar, penatar, instruktur, dan
sejenisnya) tidak terlalu mendominasi kelompok kelas, mengurangi banyak bicara,
namun mengupayakan agar individu orang dewasa itu mampu menemukan
alternatif-alternatif untuk mengembangkan kepribadian mereka. Seorang pembimbing
yang baik harus berupaya untuk banyak mendengarkan dan menerima gagasan
seseorang, kemudian menilai dan menjawab pertanyaan yang diajukan mereka. Orang
dewasa pada hakikatnya adalah makhluk yang kreatif bilamana seseorang mampu
menggerakkan/menggali potensi yang ada dalam diri mereka. Dalam upaya ini,
diperlukan keterampilan dan kiat khusus yang dapat digunakan dalam pembelajaran
tersebut. Di samping itu, orang dewasa dapat dibelajarkan lebih aktif apabila
mereka merasa ikut dilibatkan dalam aktivitas pembelajaran, terutama apabila
mereka dilibatkan memberi sumbangan pikiran dan gagasan yang membuat mereka
merasa berharga dan memiliki harga diri di depan sesama temannya. Artinya, orang
dewasa akan belajar lebih baik apabila pendapat pribadinya dihormati, dan akan
lebih senang kalau ia boleh sumbang saran pemikiran dan mengemukakan ide
pikirannya, daripada pembimbing melulu menjejalkan teori dan gagasannya sendiri
kepada mereka.
Oleh karena sifat belajar
bagi orang dewasa adalah bersifat subjektif dan unik, maka terlepas dari benar
atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem
nilainya perlu dihargai. Tidak menghargai (meremehkan dan menyampingkan) harga
diri mereka, hanya akan mematikan gairah belajar orang dewasa. Namun demikian,
pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan kepercayaan dari pembimbingnya,
dan pada akhirnya mereka harus mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa
kepercayaan diri tersebut, maka suasana belajar yang kondusif tak akan pernah
terwujud.
Orang dewasa memiliki
sistem nilai yang berbeda, mempunyai pendapat dan pendirian yang berbeda. Dengan
terciptanya suasana yang baik, mereka akan dapat mengemukakan isi hati dan isi
pikirannya tanpa rasa takut dan cemas, walaupun mereka saling berbeda pendapat.
Orang dewasa mestinya memiliki perasaan bahwa dalam suasana/ situasi belajar
yang bagaimanapun, mereka boleh berbeda pendapat dan boleh berbuat salah tanpa
dirinya terancam oleh sesuatu sanksi (dipermalukan, pemecatan, cemoohan, dll).
Keterbukaan seorang
pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam mengembangkan
potensi pribadinya di dalam kelas, atau di tempat pelatihan. Sifat keterbukaan
untuk mengungkapkan diri, dan terbuka untuk mendengarkan gagasan, akan berdampak
baik bagi kesehatan psikologis, dan psikis mereka. Di samping itu, harus
dihindari segala bentuk akibat yang membuat orang dewasa mendapat ejekan, hinaan,
atau dipermalukan. Jalan terbaik hanyalah diciptakannya suasana keterbukaan
dalam segala hal, sehingga berbagai alternatif kebebasan mengemukakan ide/gagasan
dapat diciptakan.
Dalam hal lainnya, tidak
dapat dinafikkan bahwa orang dewasa belajar secara khas dan unik. Faktor tingkat
kecerdasan, kepercayaan diri, dan perasaan yang terkendali harus diakui sebagai
hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang diambil tidak harus selalu sama
dengan pribadi orang lain. Kebersamaan dalam kelompok tidak selalu harus sama
dalam pribadi, sebab akan sangat membosankan kalau saja suasana yang seakan
hanya mengakui satu kebenaran tanpa adanya kritik yang memperlihatkan perbedaan
tersebut. Oleh sebab itu, latar belakang pendidikan, latar belakang kebudayaan,
dan pengalaman masa lampau masing-masing individu dapat memberi warna yang
berbeda pada setiap keputusan yang diambil.
Bagi orang dewasa,
terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan suatu fasilitas yang
mendorong mereka mau mencoba perilaku baru, berani tampil beda, dapat berlaku
dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang mereka peroleh. Walaupun
sesuatu yang baru mengandung resiko terjadinya kesalahan, namun kesalahan, dan
kekeliruan itu sendiri merupakan bagian yang wajar dari belajar.
Pada akhirnya, orang
dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu. Bagi orang dewasa
ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Dengan
demikian, diperlukan adanya evaluasi bersama oleh seluruh anggota kelompok
dirasakannya berharga untuk bahan renungan, di mana renungan itu dapat
mengevaluasi dirinya dari orang lain yang persepsinya bisa saja memiliki
perbedaan.
5.
Pengaruh
Penurunan Faktor Fisik dalam Belajar
Proses belajar manusia
berlangsung hingga ahkir hayat (long life education). Namun, ada korelasi
negatif antara pertambahan usia dengan kemampuan belajar orang dewasa. Artinya,
setiap individu orang dewasa, makin bertambah usianya, akan semakin sukar
baginya belajar (karena semua aspek kemampuan fisiknya semakin menurun).
Misalnya daya ingat, kekuatan fisik, kemampuan menalar, kemampuan berkonsentrasi,
dan lain-lain semuanya memperlihatkan penurunannya sesuai pertambahan usianya
pula. Menurut Lunandi (1987), kemajuan pesat dan perkembangan berarti tidak
diperoleh dengan menantikan pengalaman melintasi hidup saja. Kemajuan yang
seimbang dengan perkembangan zaman harus dicari melalui pendidikan. Menurut
Verner dan Davidson dalam Lunandi (1987) ada enam faktor yang secara psikologis
dapat menghambat keikutsertaan orang dewasa dalam suatu program pendidikan:
a.
Dengan
bertambahnya usia, titik dekat penglihatan atau titik terdekat yang dapat
dilihat secara jelas mulai bergerak makin jauh. Pada usia dua puluh tahun
seseorang dapat melihat jelas suatu benda pada jarak 10 cm dari matanya. Sekitar
usia empat puluh tahun titik dekat penglihatan itu sudah menjauh sampai 23 cm.
b.
Dengan
bertambahnya usia, titik jauh penglihatan atau titik terjauh yang dapat dilihat
secara jelas mulai berkurang, yakni makin pendek. Kedua faktor ini perlu
diperhatikan dalam pengadaan dan pengunaan bahan dan alat pendidikan.
c.
Makin
bertambah usia, makin besar pula jumlah penerangan yang diperlukan dalam suatu
situasi belajar. Kalau seseorang pada usia 20 tahun memerlukan 100 Watt
cahaya, maka pada usia 40 tahun diperlukan 145 Watt, dan pada usia 70 tahun
seterang 300 Watt baru cukup untuk dapat melihat dengan jelas.
d.
Makin
bertambah usia, persepsi kontras warna cenderung ke arah merah daripada spektrum.
Hal ini disebabkan oleh menguningnya kornea atau lensa mata, sehingga cahaya
yang masuk agak terasing. Akibatnya ialah kurang dapat dibedakannya
warna-warna-warna lembut. Untuk jelasnya perlu digunakan warna-warna cerah yang
kontras utuk alat-alat peraga.
e.
Pendengaran
atau kemampuan menerima suara mengurang dengan bertambahnya usia. Pada umumnya
seseorang mengalami kemunduran dalam kemampuannya membedakan nada secara tajam
pada tiap dasawarsa dalam hidupnya. Pria cenderung lebih cepat mundur dalam hal
ini daripada wanita. Hanya 11 persen dari orang berusia 20 tahun yang mengalami
kurang pendengaran. Sampai 51 persen dari orang yang berusia 70 tahun ditemukan
mengalami kurang pendengaran.
f.
Pembedaan
bunyi atau kemampuan untuk membedakan bunyi makin mengurang dengan bertambahnya
usia. Dengan demikian, bicara orang lain yang terlalu cepat makin sukar
ditangkapnya, dan bunyi sampingan dan suara di latar belakangnya bagai menyatu
dengan bicara orang. Makin sukar pula membedakan bunyi konsonan seperti t, g, b,
c, dan d.
6.
Langkah-Langkah Pokok dalam Andragogi
Langkah-langkah pokok
untuk mempraktikkan Andragogi adalah sebagai berikut:
a.
Menciptakan
Iklim Pembelajaran yang Kondusif: Ada beberapa hal pokok yang dapat dilakukan
dalam upaya menciptakan dan mengembangkan iklim dan suasana yang kondusif untuk
proses pembelajaran, yaitu:
1)
Pengaturan Lingkungan Fisik:
Pengaturan lingkungan
fisik merupakan salah satu unsur dimana orang dewasa merasa terbiasa, aman,
nyaman dan mudah. Untuk itu perlu dibuat senyaman mungkin:
a)
Penataan dan
peralatan hendaknya disesuaikan dengan kondisi orang dewasa;
b)
Alat peraga
dengar dan lihat yang dipergunakan hendaknya disesuaikan dengan kondisi fisik
orang dewasa;
c)
Penataan
ruangan, pengaturan meja, kursi dan peralatan lainnya hendaknya memungkinkan
terjadinya interaksi social.
2)
Pengaturan Lingkungan Sosial dan Psikologi:
Iklim psikologis hendaknya
merupakan salah satu faktor yang membuat orang dewasa merasa diterima, dihargai
dan didukung.
a)
Fasilitator
lebih bersifat membantu dan mendukung;
b)
Mengembangkan suasana bersahabat, informal dan santai melalui kegiatan Bina
Suasana dan berbagai permainan yang sesuai;
c)
Menciptakan
suasana demokratis dan kebebasan untuk menyatakan pendapat tanpa rasa takut;
d)
Mengembangkan semangat kebersamaan;
e)
Menghindari
adanya pengarahan dari "pejabat-pejabat" pemerintah;
f)
Menyusun
kontrak belajar yang disepakati bersama.
3)
Diagnosis Kebutuhan Belajar:
Dalam andragogi tekanan
lebih banyak diberikan pada keterlibatan seluruh warga belajar atau peserta
pelatihan di dalam suatu proses melakukan diagnosis kebutuhan belajarnya:
a)
Melibatkan
seluruh pihak terkait (stakeholder) terutama pihak yang terkena dampak
langsung atas kegiatan itu;
b)
Membangun
dan mengembangkan suatu model kompetensi atau prestasi ideal yang diharapkan;
c)
Menyediakan
berbagai pengalaman yang dibutuhkan;
d)
Lakukan
perbandingan antara yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, misalkan
kompetensi tertentu.
4)
Proses
Perencanaan:
Dalam perencanaan pelatihan hendaknya melibatkan semua pihak
terkait, terutama yang akan terkena dampak langsung atas kegiatan pelatihan
tersebut. Tampaknya ada suatu "hukum" atau setidak tidaknya suatu kecenderungan
dari sifat manusia bahwa mereka akan merasa 'committed' terhadap suatu keputusan
apabila mereka terlibat dan berperanserta dalam pengambilan keputusan:
a)
Libatkan
peserta untuk menyusun rencana pelatihan, baik yang menyangkut penentuan materi
pembelajaran, penentuan waktu dan lain-lain;
b)
Temuilah dan
diskusikanlah segala hal dengan berbagai pihak terkait menyangkut pelatihan
tersebut;
c)
Terjemahkan
kebutuhan-kebutuhan yang telah diidentifikasi ke dalam tujuan yang diharapkan
dan ke dalam materi pelatihan;
d)
Tentukan
pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas di antara pihak terkait siapa
melakukan apa dan kapan.
5)
Memformulasikan Tujuan:
Setelah menganalisis
hasil-hasil identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, langkah
selanjutnya adalah merumuskan tujuan yang disepakati bersama dalam proses
perencanaan partisipatif. Dalam merumuskan tujuan hendaknya dilakukan dalam
bentuk deskripsi tingkah laku yang akan dihasilkan untuk memenuhi kebutuhan
tersebut di atas.
6)
Mengembangkan Model Umum:
Ini merupakan aspek seni
dan arsitektural dari perencanaan pelatihan dimana harus disusun secara harmonis
antara beberapa kegiatan belajar seperti kegiatan diskusi kelompok besar,
kelompok kecil, urutan materi dan lain sebagainya. Dalam hal ini tentu harus
diperhitungkan pula kebutuhan waktu dalam membahas satu persoalan dan penetapan
waktu yang sesuai.
7)
Menetapkan Materi dan Teknik Pembelajaran:
Dalam menetapkan materi
dan metoda atau teknik pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
a)
Materi
pelatihan atau pembelajaran hendaknya ditekankan pada pengalaman-pengalaman
nyata dari peserta pelatihan;
b)
Materi
pelatihan hendaknya sesuai dengan kebutuhan dan berorientasi pada aplikasi
praktis;
c)
Metoda dan
teknik yang dipilih hendaknya menghindari teknik yang bersifat pemindahan
pengetahuan dari fasilitator kepada peserta;
d)
Metoda dan
teknik yang dipilih hendaknya tidak bersifat satu arah namun lebih bersifat
partisipatif.
8)
Peranan Evaluasi
Pendekatan: evaluasi secara konvensional (pedagogi) kurang efektif
untuk diterapkan bagi orang dewasa. Untuk itu pendekatan ini tidak cocok dan
tidaklah cukup untuk menilai hasil belajar orang dewasa. Ada beberapa pokok
dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar bagi orang dewasa yakni:
a)
Evaluasi
hendaknya berorientasi kepada pengukuran perubahan perilaku setelah mengikuti
proses pembelajaran/pelatihan;
b)
Sebaiknya
evaluasi dilaksanakan melalui pengujian terhadap dan oleh peserta pelatihan itu
sendiri (Self Evaluation);
c)
Perubahan
positif perilaku merupakan tolok ukur keberhasilan;
d)
Ruang
lingkup materi evaluasi "ditetapkan bersama secara partisipatif" atau
berdasarkan kesepakatan bersama seluruh pihak terkait yang terlibat;
e)
Evaluasi
ditujukan untuk menilai efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan program
pelatihan yang mencakup kekuatan maupun kelemahan program;
f)
Menilai
efektifitas materi yang dibahas dalam kaitannya dengan perubahan sikap dan
perilaku.
sumber:psikologicenter.com
sumber:psikologicenter.com
PEDAGOGI
Pedagogi
ialah kajian mengenai pengajaran, khususnya pengajaran dalam pendidikan
formal. Dengan kata lain, ia adalah sains dan seni mengenai cara
mengajar di sekolah. Secara umumnya pedagogi merupakan mata pelajaran
yang wajib bagi mereka yang ingin menjadi guru di sekolah. Sebagai satu
bidang kajian yang luas, pedagogi melibatkkan kajian mengenai proses
pengajaran dan pembelajaran, pengurusan bilik darjah, organisasi sekolah
dan juga interaksi guru-pelajar.
Dari segi etimologinya, perkataan Pedagogi datangnya daripada bahasa Yunani paidagogos, hamba yang menghantar dan mengambil budak-budak pergi balik dari sekolah. (lihat Paidea.) Perkataan “paida” merujuk kepada kanak-kanak, yang menjadikan sebab kenapa sebahagian orang cenderung membezakan antara pedagogi (mengajar kanak-kanak) dan andragogi (mengajar orang dewasa). Perkataan Yunani untuk pedagogi, pendidikan, adalah digunakan dengan lebih meluas, dan seringkali kedua-duanya boleh ditukar guna.
Pada lazimnya, seorang bakal guru akan menerusi kedua-dua bidang ini sebelum menjadi seorang guru. Tetapi bersamping itu, dia juga harus mempelajari perkara-perkara seperti pengurusan bilik darjah, organisasi sekolah, kurikulum sekolah, Perlakuan Mengajar, Interaksi Guru-Pelajar dan sebagainya.
http://www.geocities.com/nikzafri/pedagogi.html
.
Dari segi etimologinya, perkataan Pedagogi datangnya daripada bahasa Yunani paidagogos, hamba yang menghantar dan mengambil budak-budak pergi balik dari sekolah. (lihat Paidea.) Perkataan “paida” merujuk kepada kanak-kanak, yang menjadikan sebab kenapa sebahagian orang cenderung membezakan antara pedagogi (mengajar kanak-kanak) dan andragogi (mengajar orang dewasa). Perkataan Yunani untuk pedagogi, pendidikan, adalah digunakan dengan lebih meluas, dan seringkali kedua-duanya boleh ditukar guna.
Taksonomi Bloom
Pedagogi moden selalunya membahagikan fungsi pengajaran kepada tiga bidang, yakni apa yang dimaksudkan sebagai taksonomi Bloom. Menurut taksonomi bloom, pengajaran boleh terbahagi kepada:- Bidang Kognitif
Berkenaan dengan aktiviti mental seperti kefahaman, pengetahuan dan analisa. - Bidang Afektif
Berkenaan dengan sikap dan sahsiah diri. - Bidang Psikomotor
Berkenaan dengan aktiviti fizikal seperti kemahiran hidup, pertukangan, dan sukan.
Pada lazimnya, seorang bakal guru akan menerusi kedua-dua bidang ini sebelum menjadi seorang guru. Tetapi bersamping itu, dia juga harus mempelajari perkara-perkara seperti pengurusan bilik darjah, organisasi sekolah, kurikulum sekolah, Perlakuan Mengajar, Interaksi Guru-Pelajar dan sebagainya.
http://www.geocities.com/nikzafri/pedagogi.html
.
TES MBTI
The Doer
ESTP adalah orang memikirkan apa yang terjadi saat ini, mencari yang terbaik dalam hidup, ingin berbagi dengan teman-teman mereka. ESTP ini terbuka untuk dalam berbagai situasi, dapat berimprovisasi untuk mewujudkan hasil yang diinginkan. Mereka adalah orang yang aktif yang ingin memecahkan masalah mereka bukan hanya mendiskusikannya.
ESTP adalah yang paling mahir mempengaruhi orang lain. Mempromosikan adalah seni baginya. Mereka adalah seorang yang penuh aksi. ESTP tahu semua orang yang penting dan segala sesuatu yang perlu dilakukan karena mereka sangat pandai, selalu mengetahui di mana kegembiraan dan tindakan. Mereka suka memanjakan diri dalam hal-hal yang lebih baik dalam hidup dan untuk membawa orang lain bersama mereka. Tujuan mereka dalam hidup adalah untuk menjual diri dan ide-ide mereka kepada orang lain. Mereka mudah mendapatkan kepercayaan orang lain.
ESTP adalah orang yang antusias dan bersemangat, Mereka bersedia untuk terjun langsung ke hal-hal yang dapat membuat tangan mereka kotor. Mereka memikirkan saat ini, disini dan sekarang. Mereka melihat fakta-fakta dari situasi, dengan cepat memutuskan apa yang harus dilakukan, melaksanakan tindakan, dan beralih ke hal berikutnya.
ESTPs memiliki kemampuan luar biasa untuk melihat sikap masyarakat dan motivasinya. Mereka menangkap isyarat kecil, seperti ekspresi wajah dan sikap. ESTP menggunakan kemampuan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari sebuah situasi. Jika ESTP telah memutuskan bahwa sesuatu perlu dilakukan, maka mereka “melakukannya dan langsung saja”tidak terlalu memusingkan aturan. Namun, ESTP cenderung memiliki keyakinan sendiri yang kuat tentang apa yang benar dan apa yang salah, ketabahan akan menempel pada prinsip mereka.
ESTP memiliki bakat yang kuat untuk drama dan gaya. Mereka bergerak cepat, cepat berbicara pada orang yang memiliki penghargaan terhadap hal-hal indah dalam hidup. Mereka mungkin lebih boros. Mereka biasanya sangat baik menceritakan cerita dan melakukan improvisasi. Mereka biasanya membuat hal-hal semau mereka, bukan tunduk pada rencana.
Mereka suka bersenang-senang, dan menjadi orang yang menyenangkan. Mereka kadang-kadang bisa menyakiti orang lain tanpa menyadarinya, karena mereka umumnya tidak tahu dan mungkin tidak peduli tentang efek kata-kata mereka terhadap orang lain. Bukan karena mereka tidak peduli tentang orang-orang, itu karena mereka tidak terlalu memusingkan perasaan orang. Mereka membuat keputusan berdasarkan fakta dan logika.
Ringkasan: Fleksibel dan toleran, mereka mengambil pendekatan pragmatis difokuskan pada hasil sesegera mungkin. Mereka ingin bertindak penuh semangat untuk memecahkan masalah. Fokus pada di sini dan sekarang, spontan, menikmati setiap saat. Nikmati kenyamanan materi dan gaya. Belajar dengan baik bila dengan praktek.
Keywords: Wirausaha, manajemen krisis, menjual dan mempromosikan, beradaptasi, mengambil risiko.
Karir pekerjaan: Pemasaran, perdagangan, penjualan, manajer usaha kecil, penegakan hukum.
Sumber:psikologizone.com
ESTP adalah orang memikirkan apa yang terjadi saat ini, mencari yang terbaik dalam hidup, ingin berbagi dengan teman-teman mereka. ESTP ini terbuka untuk dalam berbagai situasi, dapat berimprovisasi untuk mewujudkan hasil yang diinginkan. Mereka adalah orang yang aktif yang ingin memecahkan masalah mereka bukan hanya mendiskusikannya.
ESTP adalah yang paling mahir mempengaruhi orang lain. Mempromosikan adalah seni baginya. Mereka adalah seorang yang penuh aksi. ESTP tahu semua orang yang penting dan segala sesuatu yang perlu dilakukan karena mereka sangat pandai, selalu mengetahui di mana kegembiraan dan tindakan. Mereka suka memanjakan diri dalam hal-hal yang lebih baik dalam hidup dan untuk membawa orang lain bersama mereka. Tujuan mereka dalam hidup adalah untuk menjual diri dan ide-ide mereka kepada orang lain. Mereka mudah mendapatkan kepercayaan orang lain.
ESTP adalah orang yang antusias dan bersemangat, Mereka bersedia untuk terjun langsung ke hal-hal yang dapat membuat tangan mereka kotor. Mereka memikirkan saat ini, disini dan sekarang. Mereka melihat fakta-fakta dari situasi, dengan cepat memutuskan apa yang harus dilakukan, melaksanakan tindakan, dan beralih ke hal berikutnya.
ESTPs memiliki kemampuan luar biasa untuk melihat sikap masyarakat dan motivasinya. Mereka menangkap isyarat kecil, seperti ekspresi wajah dan sikap. ESTP menggunakan kemampuan mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dari sebuah situasi. Jika ESTP telah memutuskan bahwa sesuatu perlu dilakukan, maka mereka “melakukannya dan langsung saja”tidak terlalu memusingkan aturan. Namun, ESTP cenderung memiliki keyakinan sendiri yang kuat tentang apa yang benar dan apa yang salah, ketabahan akan menempel pada prinsip mereka.
ESTP memiliki bakat yang kuat untuk drama dan gaya. Mereka bergerak cepat, cepat berbicara pada orang yang memiliki penghargaan terhadap hal-hal indah dalam hidup. Mereka mungkin lebih boros. Mereka biasanya sangat baik menceritakan cerita dan melakukan improvisasi. Mereka biasanya membuat hal-hal semau mereka, bukan tunduk pada rencana.
Mereka suka bersenang-senang, dan menjadi orang yang menyenangkan. Mereka kadang-kadang bisa menyakiti orang lain tanpa menyadarinya, karena mereka umumnya tidak tahu dan mungkin tidak peduli tentang efek kata-kata mereka terhadap orang lain. Bukan karena mereka tidak peduli tentang orang-orang, itu karena mereka tidak terlalu memusingkan perasaan orang. Mereka membuat keputusan berdasarkan fakta dan logika.
Ringkasan: Fleksibel dan toleran, mereka mengambil pendekatan pragmatis difokuskan pada hasil sesegera mungkin. Mereka ingin bertindak penuh semangat untuk memecahkan masalah. Fokus pada di sini dan sekarang, spontan, menikmati setiap saat. Nikmati kenyamanan materi dan gaya. Belajar dengan baik bila dengan praktek.
Keywords: Wirausaha, manajemen krisis, menjual dan mempromosikan, beradaptasi, mengambil risiko.
Karir pekerjaan: Pemasaran, perdagangan, penjualan, manajer usaha kecil, penegakan hukum.
Sumber:psikologizone.com
Selasa, 24 April 2012
teknologi dan pendidikan
TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN
1.Teknologi
sangat bersinggungan dengan pendidikan dewasa ini,dimana sekarang ini baik
pengajar ataupun murid dituntut untuk mendapatkan informasi dengan cepat dan
teknologi merupakan sebuah solusi untuk mempermudah kita mendapatkan ilmu
pengetahuan serta wawasan secara luas dan mudah untuk digunakan dan lebih
praktis serta efektif . Teknologi juga berguna menunjang proses pembelajaran
sebgai sumber media informasi dan media pembelajaran bertujuan meningkatkan
kreativitas baik pengajar maupun siswa .
Misalnya,ketika
siswa diminta untuk mengerjakan tugas Biologi tentang hewan amfibi .Siswa
menggunakan media teknologi seperti internet untuk menemukan jawaban tersebut
,dimana siswa tinggal mengetikkan topik yang diinginkan .Seperti contoh “hewan
amfibi”maka siswa akan mendapatkan informasi seputar hewan amfibi seperti
defenisi,contoh,jenis ,habitatnya,cara reproduksi dan gambar-gambar hewan
amfibi. Dalam kasus ini kita dapat melihat persinggungan teknologi dan
pendidikan yaitu antara tugas siswa(pendidikan ) dan internet
/komputer(teknologi).
2.Menurut
kelompok kami perkembangan teknologi khususnya di Medan mencakup SD,SMP,SMA
serta mahasiswa yaitu sebagai berikut :
.
Pada masa sekolah dasar (SD),kami belum menggunakan berbagai teknologi tapi
dibidang matematika atau perhitungan kami menggunakan media teknologi seperti
kalkulator .
.
Pada masa sekolah menengah pertama (SMP) ,kami mulai mengenal komputer serta
mempelajari bagian serta fungsi dari Microsoft Office ,disini kami juga
menggunakan internet untuk mempermudah mencari tugas .
.Pada
masa sekolah menengah atas (SMA) dan mahasiswa ,kami mulai mengenal infocus
sebagai meedia presentasi ,laptop selalu digunakan di dalam kelas ketika
melakukan diskusi kelompok .
Penerapan
standar untuk yang melek teknologi di Indonesia khususnya di Medan belum dapat
dipastikan maksimal karena terbatasnya fasilitas diruang lingkup pendidikan
Medan .
3.
Ubiquitas computing adalah era dimana masyarakat menggunakan komputer sebagai
media kerja, tidak hanya sekedar dunia virtual tetapi secara nyata di dunia
manusia. Kita saat ini berada di era ubiquitas computing. Dimana dalam dunia
pendidikan sarana, prasarana (misalnya,proyektor), serta pendidik dan terdidik,
banyak di bantu komputer dalam tugasnya sehari-hari. Komputer yang dulu
ditinggalkan di rumah, kini dapat dibawa kemana-mana, internet yang dulu mahal
kini dapat dicari ditempat-tempat berjaringan WiFI. Sehingga di era ini semua
kalangan bisa memakai komputer sebagai media kerja.
Senin, 09 April 2012
Psikologi Sekolah
Adinda Andini (11-009)
Siti Melisa Harahap (11-005) Pritta Astuti Suryaningtyas (11-023)
Kedudukan Psikologi Sekolah dalam Ilmu Psikologi
Psikologi merupakan bagian dari psikologi pendidikan. Sesuai degan pegertian ilmu psikologi, psikologi sekolah mempelajari perilaku dan proses mental di lingkungan sekolah. Dalam hal ini, psikologi sekolah berfokus kepada siswa, guru dan orang tua siswa.
Perbedaan Psikologi Sekolah dan Psikologi Pendidikan
Psikologi sekolah merupakan ilmu terapan dari psikologi pendidikan yang hanya berfokus pada sekolah dan bidang-bidangnya di sekolah, terutama terhadap murid.
Psikologi sekolah juga berusaha menciptakan situasi yang mendukung bagi anak didik dalam mengembangkan akademik, sosialisasi dan emosi yang bertujuan utuk membentuk pola pikir anak.
Psikologi pendidikan
Menurut Santrock, psikologi pendidikan adalah cabang psikologi yang mengkhususkan diri pada pemahaman tentang proses belajar dan mengajar dalam lingkunga pendidikan.
Secara harfiah atau etimologis, psikologi berasal dari kata “psyche” yang berarti jiwa dan “logos” yang berarti ilmu. Psikologi mengandung makna yaitu ilmu jiwa yang berarti ilmu pengetahuan yang mempelajari jiwa manusia melalui gejala-gejalanya, aktifitas-aktifitasnya atau perilaku manusia.
Psikologi pendidikan berarti cabang dari ilmu psikologi yang mempelajari jiwa manusia atau perilaku manusia di bidang pedidikan. Psikologi pendidikan mempelajari bagaimana manusia belajar dalam bidang pendidikan, keefektifan dalam proses pembelajaran, cara mengajar da pengelolaan organisasi sekolah.
Dari pengertian psikologi pendidikan, dan psikologi sekolah itu sendiri, dapat dilihat perbedaan bahwa psikologi pendidikan adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari jiwa manusia dalam pedidikan serta gejala-gejala di bidang pendidikan. Sedangkan psikologi sekolah adalah ilmu terapan dari psikologi pendidikan yang lebih mengkhususkan diri lagi hanya di dalam lingkungan sekolah, dalam proses pembelajaran dan pengajaran dan lebih secara detail memahami jiwa dan perilaku manusia di dalamnya terutama murid.
Fungsi sekolah sebagai agen perubahan
Sekolah harus memiliki fungsi dan peran dalam perubahan masyarakat menuju ke arah perbaikan dalam segala spek. Dalam hal ini, sekolah memliki 2 karakter secara umum. Pertama, melaksakan peranan, fungsi dan harapan untuk mencapai tujuan dari sebuah sistem. Kedua, mengenali individu yang berbeda-beda dalam peserta didik yang memiliki kepribadian dan disposisi kebutuhan.
Sebagai agen perubahan, sekolah berfungsi sebagai alat :
a. Pengembangan pribadi
b. Pengembangan budaya
c. Pengembangan bangsa
d. Pengembangan warga
Metode yang digunakan dalam Sistem Pembelajaran di sekolah
Ceramah adalah penuturan bahan pelajaran secara lisan. Metode ini tidak selalu jelek bila penggunaannya betul-betul disiapkan dengan baik didukung dengan alat dan media serta memperhatikan batas-batas kemungkinan penggunaannya.
Metode ceramah adalah metode yang paling banyak disukai oleh kebanyakan guru, karena paling mudah mengatur kelas maupun mengorganisirnya. Bila guru dalam menyampaikan pesan (dalam hal ini materi pelajaran) dilakukan secara lisan kepada siswa, maka guru tersebut telah dapat dikatakan memberi ceramah. Siswa hanya mencatat dan menghafalkan konsep-konsep yang dijelaskan guru. Dalam metode ini siswa tidak diberi kesempatan untuk menemukan sendiri konsep-konsep tersebut. Metode ceramah adalah metode yang paling populer dan banyak dilakukan guru, selain mudah penyajiannya, juga tidak banyak memerlukan media. Metode ceramah merupakan suatu metode penyampaian informasi, dimana guru berbicara memberi materi ajar secara aktif dan peserta didik mendengarkan atau menerimanya.
Metode ceramah atau kuliah (lecture) merupakan suatu cara belajar mengajar dimana bahan disajikan oleh guru secara monologue (sologuy) sehingga pembicaraan lebih besifat satu arah (one way communication). Adapun siswa yang memiliki keterbatasan dalam memperhatikan, mendengar, mencamkan, mencatat, diberi kesempatan menjawab dan atau mengemukakan pertanyaan.
Ada juga beberapa metode yang digunakan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, yaitu:
1. Metode Langsung
Metode ini menerapkan secara langsung semua aspek dalam bahasa yang diajarkan. Misalnya, dalam suatu pembelajaran pelajaran bahasa Indonesia di daerah bahasa pengantar di kelas adalah bahasa Indonesia tanpa diselingi bahasa daerah/ bahasa ibu.
2. Metode Alamiah
Metode ini berprinsip bahwa mengajar bahasa baru (seperti bahasa kedua) harus sesuai dengan kebiasaan belajar bahasa yang sesungguhnya seperti yang dilalui anak-anak ketika belajar bahasa ibunya. Proses alamiah sangat berpengaruh pada metode ini.
3. Metode Tatabahasa
Metode ini memusatkan pada pembelajaran vokabulerr (kosakata), kelebihan metode ini terletak pada kesederhanaannya dan sangat mudah dalam pelaksanaannya.
4. Metode Terjemahan
Metode terjemahan (the translation method) adalah metode yang lazim digunakan dalam pengajaran bahasa asing, termasuk dalam pengajaran bahasa Indonesia yang umumnya merupakan bahan kedua setelah penggunaan bahasa ibu/ daerah.
5. Metode Pembatasan Bahasa
Metode ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur bahasa yang akan diajarkan, kata-kata dan pola kalimat yang tinggi pemakaiannya di masyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan bahasa.
6. Metode Lingustik
Prinsip metode ini adalah pendekatan ilmiah karena yang menjadi landasan pembelajaran adalah hasil dari penelitian para linguis (ahli bahasa). Urutan penyajian bahan pembelajaran disusun sesuai tahap-tahap kesukaran yang mungkin dialami siswa. Dengan demikian pada metode ini tidak dilarang menggunakan bahasa ibu, karena dengan bahasa ibu akan memperkuat murid dalam pemahaman bahasa tersebut.
7. Metode SAS
Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) bersumber pada ilmu jiwa yang berpandangan bahwa pengamatan dan penglihatan pertama manusia adalah global atau bersifat menyeluruh. Dengan demikian segala sesuatu yang diperkenalkan pada murid haruslah mulai ditunjukan dan diperkenalkan struktur totalitasnya atau secara global.
8. Metode Bibahasa
Metode ini hampir sama dengan metode linguistik, bahasa ibu digunakan untuk menerangkan perbedaan–perbedaan fonetik, kosakata, struktur kalimat dan tata bahasa kedua bahasa itu.
9. Metode Unit
Metode ini berdasarkan pada 4 tahap, yaitu:
a. mempersiapkan murid untuk menerima pengajaran
b. penyajian bahan
c. bimbingan malalui proses induksi
d. generalisasi dan penggunaannya di sekolah dasar
Permasalahan yang terjadi di sekolah dan solusi pemecahan masalah
Rendahnya Prestasi Siswa
Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia hanya berada di ranking ke-35 dari 44 negara dalam hal prestasi matematika dan di ranking ke-37 dari 44 negara dalam hal prestasi sains. Dalam hal ini prestasi siswa kita jauh di bawah siswa Malaysia dan Singapura sebagai negara tetangga yang terdekat.
Dalam hal prestasi, 15 September 2004 lalu United Nations for Development Programme (UNDP) juga telah mengumumkan hasil studi tentang kualitas manusia secara serentak di seluruh dunia melalui laporannya yang berjudul Human Development Report 2004. Di dalam laporan tahunan ini Indonesia hanya menduduki posisi ke-111 dari 177 negara. Apabila dibanding dengan negara-negara tetangga saja, posisi Indonesia berada jauh di bawahnya.
Anak-anak Indonesia ternyata hanya mampu menguasai 30% dari materi bacaan dan ternyata mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran. Hal ini mungkin karena mereka sangat terbiasa menghafal dan mengerjakan soal pilihan ganda.
Solusinya:
Solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait
langsung dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan
masalah kualitas guru dan prestasi siswa.
Maka, solusi untuk masalah-masalah teknis dikembalikan kepada
upaya-upaya praktis untuk meningkatkan kualitas sistem pendidikan.
Rendahnya kualitas guru, misalnya, di samping diberi solusi peningkatan
kesejahteraan, juga diberi solusi dengan membiayai guru melanjutkan ke
jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dan memberikan berbagai pelatihan
untuk meningkatkan kualitas guru. Rendahnya prestasi siswa, misalnya,
diberi solusi dengan meningkatkan kualitas dan kuantitas materi
pelajaran, meningkatkan alat-alat peraga dan sarana-sarana pendidikan,
dan sebagainya.
Fungsi dan peran Psikolog Sekolah dan perlunya Psikologi Sekolah
Pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antar personel sekolah, guru-guru, wali kelas, dan petugas lainnya. Pekerjaan konselor merupakan salah satu dari pekerjaan profesional di sekolah. Semua personel sekolah terkait dalam pelaksanaan program bimbingan, karena bimbingan merupakan salah satu unsur dari sistem pendidikan. Kegiatan bimbingan mencakup banyak aspek dan saling kait-mengait, sehigga tidak memungkinkan jika layanan bimbingan dan konseling hanya menjadi tanggung jawab konselor saja.
Hal yang diberikan dalam kaitannya dalam Psikologi Sekolah
Yang perlu diperhatikan dalam Pendidikan Seksualitas Anak
Beberapa kalangan tidak menyetujui adanya pendidikan seks diberikan pada anak karena khawatir akan semakin membuat anak ingin tahu dan melakukannya namun ada kalangan yang menyetujui pendidikan seks diberikan sejak usia dini justru untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada anak mereka. Dalam memberikan pendidikan seks pada anak ada rambu-rambu yang harus diperhatikan, diantaranya adalah penyesuaian materi dengan usia anak. Selain hal tersebut, yang harus diperhatikan adalah sbb:
Tanamkan rasa percaya pada anak kita. Apa yang anda pikirkan jika ada seorang anak sekolah dasar kedapatan menyimpan beberapa komik dan
Perbedaan Psikolog Sekolah, Psikolog Pendidikan, dan Guru BK
Psikolog pendidikan memiliki ruang lingkup kerja yang luas. Psikolog
pendidikan menyelesaikan masalah pendidikan sejak pendidikan pra sekolah
hingga perguruan tinggi, setting kelas, sistem sekolah, dan sebagainya.
Dengan demikian, psikolog pendidikan memiliki peranan penting dalam
mencari titik temu dengan tantangan pendidikan pada suatu bangsa. Untuk
dapat melihat luasnya cakupan kerja dari psikolog pendidikan, ruang
lingkupnya, yaitu:· Melakukan assesment dan intervensi individual murid
sekolah· Konsultasi mengenai keberfungsian sistem sekolah· Melakukan
assesment pada anak-anak pra-sekolah di rumahnya, dan di sekolah (play
group), untuk memberikan rekomendasi alur sekolahnya· Rekruitmen dan
seleksi staf sekolah· Melakukan penelitian dan evaluasi di sekolah,
misalnya anak-anak yang mengalami autis· Pelatihan, misalnya memberikan
pelatihan ketrampilan konseling, pelatihan untuk guru dalam menghadapi
anak yang sulit belajar atau dyslexia, pelatihan keterampilan sosial,
stress management, dan adolescent counseling· Assesment orang dewasa
untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi· Memberikan advice
pendidikan yang berkaitan dengan penilaian formal di sekolah yang
terkait dengan peraturan-peraturan pendidikan. Konseling terhadap orang
tua murid, khususnya mengenai perilaku anaknya Assesment terhadap
kebutuhan pendidikan khusus dan disable, anak-anak cacat fisik atau
neurologis, dukungan serta kebutuhan dalam setting sekolahnya· Terapi
keluarga, terapi individual untuk anak yang mengalami masalah emosional,
masalah keluargaDengan demikian, psikolog pendidikan dapat membantu
sekolah secara keseluruhan, sehingga sekolah tersebut menjadi lebih
efektif dalam mendukung kebutuhan khusus dari murid dalam pendidikan,
mengembangkan prosedur perilaku yang efektif, mengembangkan kebijakan
lebih efektif dalam rangka meningkatkan kinerja dan kualitas sekolah,
dan membicarakan tantangan lain yang menjadi minat staf sekolah.
Psikolog Sekolah (Bimbingan Belajar, Play group, TK, SD, SLTP, SMU, dan
Perguruan Tinggi). Bimbingan adalah “proses memberikan bantuan kepada
siswa agar ia sebagai pribadi memiliki pemahaman yang benar akan diri
pribadinya dan akan dunia di sekitarnya, mengambil keputusan untuk
melangkah maju secara optimal dalam perkembangannya dan dapat menolong
dirinya sendiri menghadapi serta memecahkan masalah-masalahnya, semuanya
demi tercapainya penyesuaian yang sehat dan demi kemajuan dan
kesejahteraan mentalnya”Sedangkan konseling diartikan sebagai “proses
interaksi antara konselor dengan klien/konselee baik secara langsung
(tatap muka) atau tidak langsung (melalui media internet atau telepon)
dalam rangka membantu klien agar dapat mengembangkan potensi dirinya
atau memecahkan masalah yang dialaminya”. Bimbingan konseling menempati
bidang pembimbingan siswa dalam keseluruhan, proses dan kegiatan
pendidikan. Pemberian bimbingan konseling kepada siswa agar
masing-masing siswa dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri secara
optimal. Bimbingan konseling dapat berfungsi pengembangan artinya,
bimbingan yang diberikan dapat membantu para siswa dalam mengembangkan
keseluruhan pribadinya secara lebih terarah dan mantap.
Tugas Guru BK/Konselor Menurut PP No. 74 Tahun 2008 adalah Guru
bimbingan konseling /konselor memiliki tugas, tanggungjawab, wewenang
dalam pelaksanaan pembimbingan konseling terhadap peserta didik. Tugas
guru bimbingan konseling /konselor terkait dengan pengembangan diri
peserta didik yang sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, dan
kepribadian peserta didik di sekolah/madrasah.Tugas guru bimbingan
konseling/konselor yaitu membantu peserta didik dalam:Pengembangan
kehidupan pribadi, yaitu bidang pembimbingan yang membantu peserta didik
dalam memahami serta menilai bakat dan minat. Pengembangan kehidupan
sosial, yaitu bidang pembimbingan yang membantu peserta didik dalam
memahami dan menilai serta mengembangkan kemampuan hubungan sosial dan
industrial yang harmonis, dinamis, berkeadilan, dan bermartabat.
Pengembangan kemampuan belajar, yaitu bidang pembimbingan yang membantu
peserta didik mengembangkan kemampuan belajar untuk mengikuti pendidikan
sekolah/madrasah secara mandiri. Pengembangan karir, yaitu bidang
pembimbingan yang membantu peserta didik dalam memahami dan menilai
informasi, serta memilih dan mengambil keputusan karir.Jenis bimbingan
adalah sebagai berikut:Bimbingan orientasi, yaitu bimbingan yang
membantu peserta didik memahami lingkungan baru, terutama lingkungan
sekolah/madrasah dan objek-objek yang dipelajari, untuk menyesuaikan
diri serta mempermudah dan memperlancar peran peserta didik di
lingkungan yang baru.
Letak perbedaan antara psikolog pendidikan dengan guru BK/BP
yaitu:Psikolog (termasuk psikolog pendidikan) adalah seorang sarjana
psikologi yang telah menjalani pendidikan profesi dan berhak membuka
praktek, termasuk praktek konseling, namun tidak berkompeten
mengeluarkan resep obat. Psikologi mempelajari perilaku manusia secara
umum dan terbagi atas enam bidang, yaitu Psikologi Industri &
Organisasi, Psikologi Perkembangan, Psikologi Pendidikan, Psikologi
Sosial, Psikologi Klinis dan Psikologi Eksperimen.Sedangkan,Konselor
adalah seseorang yang mempunyai keahlian dalam melakukan konseling.
Berlatar belakang pendidikan minimal sarjana strata 1 (S1) dari jurusan
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB), Bimbingan Konseling (BK), atau
Bimbingan Penyuluhan (BP). Mempunyai organisasi profesi bernama
Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN). Melalui proses
sertifikasi, asosiasi ini memberikan lisensi bagi para konselor tertentu
sebagai tanda bahwa yang bersangkutan berwenang menyelenggarakan
konseling dan pelatihan bagi masyarakat umum secara resmi. Konselor
bergerak terutama dalam konseling di bidang pendidikan, tetapi juga
merambah pada bidang industri dan organisasi, penanganan korban bencana,
dan konseling secara umum di masyarakat. Khusus bagi konselor
pendidikan yang bertugas dan bertanggungjawab memberikan bimbingan
konseling kepada peserta didik di satuan pendidikan (sering disebut Guru
BP/BK atau Guru Pembimbing), ia tidak diwajibkan mempunyai sertifikat
terlebih dulu.
Sumber:
www.scribd.com
miftah19.wordpress.com
zaifbio.wordpress.com
Selasa, 03 April 2012
Pendidikan Pra Sekolah
Penulis akan membahas kembali sedikit tentang apa yang sudah dipelajari tadi pagi.
Pendidikan Pra sekolah sering juga disebut dengan pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD).
Defenisi PAUD sesuai dengan UUD RI No. 2 tahun 1989 adalah " Pendidikan anak Pra sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan untuk mengembangkan pribadi,pengetahuan dan keterampilan yang melandasi pendidikan dasar serta mengembangkan diri secara utuh sesuai dengan asas pendidikan sedini mungkin seumur hidup"
Ruang Lingkup usia anak usia dini adalah:
Bayi (0-12 bulan)
Toddler ( 1-3 tahun)
Pra sekolah (3-6 tahun)
Awal SD (6-8 tahun)
Ada beberapa tokoh yang mempengaruhi dunia pendidikan
1. Friedik Fruebel
Beliau merupakan Bapak Pendidikan Anak Usia Dini. Beliau merupakan orang yang pertama kali membuka sekolah taman kanak-kanak di Jerman
2.John Dewey
Beliau adalah tokoh yang mempengaruhi pendidikan di Amerika. Teori Dewey mengenai sekolah disebut dengan "progressivism" yang lebih menekankan minat daripada mata peklajaran itu sendiri pada anak didik. Sehingga muncullah istilah " Child Contered" & "Child Centered Schools"
3.Montesori
Beliau adalah tokoh yang menekankan pada persepsi anak terhadap dunia.
4. Ki Hajar Dewantara
Beliau merupakan tokoh yang sangat berpengaruh dalam dunia pendidikan di Indonesia. Dan sangat terkenal dengan sekolah yang didirikannya yaitu Taman Siswa. Beliau memiliki pandangan mengenai ciri khas PAUD:
- Menanamkan Budi Pekerti dan sistem Among
-Bentuknya bukan mata pelajaran tetapi menanamkan nilai martabat kemanusiaan,nilai moral,watak, dan pada akhirnya menentukan manusia yang berkepribadian
Nah, itu dia sebahagian dari tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam dunia pendidikan anak usia dini.
Kali ini penulis akan membahas mengenai pentingnya PAUD.
Pendidikan Anak usia Dini, sangat penting. karena akan memberikan persiapan anak dalam menghadapi masa-masa sekolahnya. Dalam usia mereka , mereka diajarkan dengan cara yang mereka ketahui,yakni lewat bermain. Lewat permainan yang diarahkan, anak bisa belajar banyak, seperti melatih cara bersosialisasi,mengatasi konflik,problem solving, kewajiban sosial dan mereka juga bisa belajar 1-3 bahasa.
Lewat bermain anak, tidak dipaksa untuk belajar. saat bermain otak anak dalam keadaan yg tenang, Dan saat tenang itulah, pendidikan bisa masuk dan tertanam.
Sekian ulasan mengenai Pendidikan Anak Usia Dini. Semoga bergunaa yaa teman-teman.... :)
adinda11009.blogspot.com
11052rkm.blogspot.com
amnn11086.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)