Minggu, 01 Juli 2012

TEORI SIGMUND FREUD

Teori Sigmund Freud

Teori Freud. Psikoanalisis hampir diidentikan dengan sosok seorang Freud. Sigmund Freud (1856-1939) lahir pada tanggal 6 Mei 1856 di Freiberg Moravia yang pada masa itu merupakan provinsi di bagian utara Kekaisaran Autro Hongaria dan sekarang adalah wilayah Republik Ceska.
Dalam buku Sejarah dan Sistem Psikologi oleh James F. Brennan pada tahun 2006, pandangan freud terus berkembang selama kariernya yang panjang. Hasil kolektif tulisan tulisan yang luas merupakan sebuah sistem rinci tentang perkembangan kepribadian. Freud mengemukakan tiga struktur spesifik kepribadian yaitu Id, Ego dan Superego. Ketiga struktur tersebut diyakininya terbentuk secara mendasar pada usia tujuh tahun.
Struktur ini dapat ditampilkan secara diagramatik dalam kaitannya dengan aksesibilitas bagi kesadaran atau jangkauan kesadaran individu. Id merupakan libido murni atau energi psikis yang bersifat irasional. Id merupakan sebuah keinginan yang dituntun oleh prinsip kenikmatan dan berusaha untuk memuaskan kebutuhan ini.

Ego merupakan sebuah pengatur agar id dapat dipuaskan atau disalurkan dalam lingkungan sosial. Sistem kerjanya
pada lingkungan adalah menilai realita untuk mengatur dorongan-dorongan id agar tidak melanggar nilai-nilai superego. Sedangkan Superego sendiri adalah bagian moral dari kepribadian manusia, karena ia merupakan nilai baik-buruk, salah- benar, boleh- tidak sesuatu yang dilakukan oleh dorongan Ego yaitu Id.
Kesadaran dan Ketidaksadaran
Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya, kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut. Ketidakasadaran itu tidak dapat dikaji langsung, karena perilaku yang muncul itu merupakan konsekuensi logisnya.
Sedangkan kesadaran itu merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan.
Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.
Kecamasan
Bagian yang tidak kalah penting dari teori Freud adalah tentang kecemasan. Kecemasan ini menurutnya berkembang dari konflik antara sistem id, ego dan superego tentang sistem kontrol atas energi psikis yang ada. Menurut Freud kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral.
(1) Kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata.
(2) Kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat  sesuatu yang dapat mebuatnya terhukum, dan
(3) Kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.
Mekanisme Pertahan Ego
Untuk menghadapi tekanan kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan yang demikian itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap tekanan kecemasan. Dalam teori Freud, bentuk-bentuk mekanisme pertahanan yang penting adalah:
a. represi; ini merupakan sarana pertahanan yang bisa mengusir pikiran serta perasaan yang menyakitkan dan mengancam keluar dari kesadaran,
b. memungkiri; ini adalah cara mengacaukan apa yang dipikirkan, dirasakan, atau dilihat seseorang dalam situasi traumatik,
c. pembentukan reaksi; ini adalah menukar suatu impuls atau perasaan yang menimbulkan kecemasan dengan melawannya dalam kesadaran,
d. proyeksi; ini berarti memantulkan sesuatu yang sebenarnya terdapat dalam diri kita sendiri ke dunia luar,
e. penggeseran; merupakan suatu cara untuk menangani kecemasan dengan menyalurkan perasaan atau impuls dengan jalan menggeser dari objek yang mengancam ke “sasaran yang lebih aman”,
f. rasionalisasi; ini cara beberapa orang menciptakan alasan yang “masuk akal” untuk menjelaskan disingkirnya ego yang babak belur,
g. sublimasi; ini suatu cara untuk mengalihkan energi seksual kesaluran lain, yang secara sosial umumnya bisa diterima, bahkan ada yang dikagumi,
h. regresi; yaitu berbalik kembali kepada prilaku yang dulu pernah mereka alami,
i. introjeksi; yaitu mekanisme untuk mengundang serta “menelaah” sistem nilai atau standar orang lain,
j. konpensasi,
k. ritual dan penghapusan.
Tahap Perkembangan Kepribadian
Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap. Menurut Freud, kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun, meliputi beberapa tahap yaitu tahap oral, tahap anal, tahap phalik, tahap laten, dan tahap genital.
sumber : http://www.psikologizone.com

teori erich fromm


Kehidupan Personal
Erich Fromm dilahirkan di Frankfurt, Jerman pada tanggal 23 Maret 1900.Pemikirannya banyak didasarkan pada subjek psikologi dan sosiologi. Latar belakang akademiknya dimulai dari Universitas Frankfurt dengan major yurisprudensi. Hanya bertahan setahun di sana, Fromm memutuskan untuk belajar sosiologi di Universitas Heidelberg. Selama di Heidelberg, ia juga belajar psikoanalisis di bawah bimbingan Frieda Richmann. Di tahun 1930, ia bergabung dengan Frankfurt Institute for Social Research, sebuah institut yang melahirkan Mahzab Frankfurt. Saat itu, ia juga mengembangkan ilmunya dengan belajar psikoanalisis di Munich dan di Institut Psikoanalisis Berlin. Di tahun 1934, ketika Nazi mengambil alih Jerman, ia pindah ke Amerika Serikat. Kehidupannya di Amerika diisi dengan di Institut Psikoanalisis Chicago dan melakukan praktik privat di New York City. Sebelum pensiun, ia membangun psikoanalisis di Meksiko dan menjadi profesor di sana. Terakhir, Fromm tinggal di Swiss dan meninggal di Muralto, Swiss pada tanggal 18 Maret 1980.
Pandangan Fromm tentang kehidupan banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa mudanya.Salah satunya ialah ketika di umur 12 tahun ia menyaksikan seorang wanita cantik dan berbakat, sahabat keluarganya, bunuh diri. Fromm sangat terguncang karena kejadian itu karena tidak ada seorang pun memahami mengapa wanita tersebut memilih mati bunuh diri. Ia juga dilahirkan sebagai anak dari kedua orangtua yang neurotis. Ayahnya seringkali murung, cemas, dan muram. Ibunya mudah menderita depresi hebat. Hidup dalam satu rumah tangga yang penuh ketegangan, Fromm tidak dikelilingi pribadi-pribadi yang sehat. Selanjutnya, ketikaberumur 14 tahun, Fromm melihat irasionalitas melanda Jerman, tepatnya ketika pecah perang dunia pertama. Dia menyaksikan bahwa orang Jerman menjadi ultranasionalis, terperosok ke dalam suatu fanatisme sempit, histeris dan tergila-gila.Orang-orang dekatnya menjadi terpengaruh; saudaranya, teman-teman dan kenalannya, sampai seorang guru yang sangat ia kagumi. Akhirnya, banyak dari mereka meninggal di parit-parit perlindungan. Ia heran mengapa orang yang baik dan bijaksana tiba-tiba menjadi gila.
Karena berbagai peristiwa itulah, kehidupan muda Fromm merupakan laboratorium hidup bagi observasinya terhadap tingkah laku neurotis. Dari pengalaman-pengalaman yang membingungkan ini, Fromm mengembangkan keinginan untuk memahami kodrat manusia dan sumber tingkah laku irasional. Dia menduga hal itu adalah akibat kekuatan sosio-ekonomis, politis, dan historis yang secara masif mempengaruhi kodrat kepribadian manusia.
Karya Pemikiran Erich Fromm
Karya-karya Fromm dibentuk melalui wawasan yang luas yang luas tentang sejarah, sosiologi, kesusastraan, dan filsafat. Tema dasar dari dasar semua tulisan Fromm eksistensialisme manusia dalam kebebasan. Dalam pandangan Fromm, individu adalah entitas yang merasa terisolasi karena dipisahkan dari alam dan orang-orang lain. Hal ini terangkum dalam karyanya yang pertama, Escape from Freedom (1941). Di buku ini, Fromm mengajukan tesis bahwa manusia seiring perkembangan peradaban, menjadi semakin bebas. Di sisi lain, kebebasan manusia membuat mereka makin merasa kesepian (being lonely). Kebebasan menjadi keadaan yang negatif dari mana manusia melarikan diri. Manusia gamang dan takut dengan kebebasan yang sebenarnya tak memberi jaminan dan kepastian.
Jawaban dari ketakutan akan kebebasan tersebut terwujud dalam dua pilihan. Pertama, semangat cinta dan kerjasama yang menghasilkan manusia yang mengembangkan masyarakat yang lebih baik. Kedua, manusia merasa aman dengan tunduk pada penguasa yang kemudian dapat menyesuaikan diri dengan masyarakat. Totalitarianisme, kekejian, materialisme, dan berbagai manifestasi sifat vulgar manusia lainnya, menurut Fromm, tak lain merupakan bentuk pelarian seseorang dari kebebasan (Subono, 2010). Pandangan ini sebenarnya merupakan bekas jejak memori masa lalu Fromm yang membuatnya merasa prihatin terhadap rezim-rezim yang didirikan manusia (Rahmawati, 2011).
Dalam buku-buku Fromm berikutnya (1947, 1955, 1964), dikatakan bahwa dalam kehidupan manusia terdapat sebuah kontradiksi dasar. Kontradiksi di sini mengandung maksud bahwa manusia merupakan bagian tetapi sekaligus terpisah dari alam, merupakan binatang sekaligus manusia. Sebagai binatang, individu memiliki kebutuhan fisik tertentu yang harus dipuaskan. Sebagai manusia, individu memiliki kesadaran diri, pikiran, perasaan, dan khayalan. Pengalaman khas manusia meliputi perasaan lemah lembut, cinta, kasihan, perhatian, tanggung jawab, identitas, intergritas, bisa terluka, transendensi, dan kebebasan, nilai-nilai serta norma-norma. Oleh karena itu, setiap masyarakat yang diciptakan manusia, entah termanifestasikan dalam bentuk feodalisme, kapitalisme, fasisme, sosialisme, dan komunisme, semuanya menunjukkan usaha manusia untuk menciptakan jalan tengah atas kontradiksi tersebut.
Dalam To Have or To Be (1976), Fromm menyatakan bahwa ada dua modus eksistensi manusia dalam masyarakat kapitalis. Pertama adalah ‘memiliki’ (to have). Modus ini cenderung tidak sehat karena dalam modus ini, eksistensi ini manusia menjadi utuh dengan membeli, memiliki, dan terobsesi pada sesuatu. Kedua adalah ‘menjadi’ (to be). Kebalikan darito have,to be cenderung bersifat positif, sehat, dan mengaktualisasikan kesejatian manusia. Dalam modus ini, seseorang merasa utuh dengan bekerja, berproses, merealisasikan dirinya. Dengan kata lain sebuah proses ‘menjadi’ seseorang yang beridentitas. Isu yang ditelaah oleh Fromm ini sangat dekat dengan masyarakat modern di mana identitas dan eksistensi berbanding lurus dengan banyaknya barang bermerk mahal yang dimiliki, di mana kegemaran akan berbelanja lebih menuruti gengsi daripada kebutuhan.
Kodrat manusia bukanlah sekumpulan potensi tertentu yang hanya sekedar menerima apa yang didapat dari lingkungan budaya, tetapi ada faktor inner yang merupakan dorongan eksistensial manusia, yang terdiri atas dorongan yang produktif dan nonproduktif (Fromm, 1947). Dorongan produktif identik dengan sikap cinta akan kehidupan yang berakar, sedangkan dorongan non-produktif identik dengan sikap destruktif-nekrofilik yang dicerminkan oleh sikap reseptif, eksploitatif, menimbun serta karakter pasar. Dorongan eksistensial produktif dan nonproduktif ini berakar dalam orientasi hidup manusia.
Struktur sosial masyarakat modern saat ini menurut Fromm (1955, 1976) telah membentuk watak sosial yang pasif-non produktif yang berakarkan pada orientasi to have, sehingga perlu adanya kesadaran baru guna merombak orientasi ini. Kebudayaan modern seolah-olah telah memberikan pola-pola yang memungkinkan mereka hidup seutuhnya. Akan tetapi, dalam pandangan Fromm walaupun kebudayaan modern kurang memberi gerak bagi upaya menumbuhkan orientasi to be, orientasi ini akan selalu ada, karena merupakan orientasi dasar yang melekat dalam diri manusia. Dengan demikian, harapan untuk menumbuhsuburkan orientasi ini terbuka lebar. Ditandai dengan munculnya kesadaran bahwa atas dasar pertimbangan ekonomi dan profit semata-mata, seseorang tidak akan mencapai kebahagiaan. Tanda lain yang memberikan harapan adalah meningkatnya ketidakpuasan terhadap sistem sosial yang ada. Mereka tidak bahagia karena merasa terpencil dan karena ‘kebersamaan’ mereka terasa hampa. Mereka merasakan kemandulan dan tidak bermaknanya hidup yang mereka jalani.
Oleh karena itu, konsepsi masyarakat ideal yang harus diwujudkan adalah masyarakat yang berhubungan satu sama lain dengan penuh cinta, berakar pada ikatan persaudaraan dan solidaritas. Dalam pandangan Fromm, individu akan mencapai hakikat manusiawi seutuhnya di dalam lingkungan masyarakat yang memberi ruang bagi individu untuk mencapai pengertian tentang diri dengan mengalami dirinya sebagai subjek dari potensinya, bukan dengan bertindak sesuai konformitas. Fromm mengusulkan suatu nama untuk masyarakat yang sempurna tersebut, yaitu Sosialisme Komunitarian Humanistik (Subono, 2010).
Erich Fromm dan Teori Kritis
Pemikiran Fromm sangat dipengaruhi oleh tulisan Karl Marx, terutama oleh karya Marx yang pertama, The Economic and Philosophical Manuscripts. Namun, sebagai seorang psikoanalis yang berkiblat pada Freud, Fromm membandingkan ide-ide Freud dan Marx. Ia menyelidiki kontradiksi-kontradiksi keduanya dan melakukan percobaan yang sintesis. Pada tahun 1959, Fromm menulis analisis yang sangat kritis bahkan polemis tentang kepribadian Freud dan pengaruhnya, sebaliknya berbeda sekali dengan kata-kata pujian yang diberikan kepada Marx pada tahun 1961. Fromm berujung pada kesimpulan bahwa Marx merupakan pemikir yang lebih ulung daripada Freud. Meskipun Fromm dapat disebut sebagai seorang teoritikus kepribadian Marxis, ialebih memilih disebut filsuf humanis dialektik.
Di sisi lain, ia menemukan celah-celah dalam pemikiran Marx dan menggunakan psikoanalisis untuk mengisi celah tersebut. Oleh karena itulah, ketika bergabung dengan Sekolah Frankfurt yang meletakkan dasar ajarannya pada pemikiran Marx, Fromm melakukan kritik ideologi melalui ajaran Freud. Erich Fromm-lah yang memberikan kontribusi psikoanalisis Freud dalam tradisi kritis. Menurut Fromm, Teori Kritis membutuhkan psikoanalisis karena dapat mempertajam kritik ideologi Marx. Menurut Marx, ideologi adalah bentuk manifestasi kesadaran palsu. Ideologi tidak menggambarkan situasi nyata manusia secara apa adanya, tetapi merupakan legitimasi yang digunakan kelompok borjuis untuk menindas kelas pekerja. Oleh karena itu, psikoanalisis dapat menjelaskan mengapa kesadaran palsu itu dapat diciptakan.
Titik kulminasi karya filosofi sosial Fromm dapat dilihat di bukunya The Sane Society (1955).Dalam buku ini, Fromm menolak baik komunisme Soviet maupun kapitalisme barat karena keduanya dipandangnya sebagai dehumanisasi yang melahirkan fenomena alienasi modern yang terjadi secara universal. Dengan berpijak pada Marx, Fromm menekankan kembali konsepsi ideal kebebasan, yang telah banyak hilang dari Marxisme Soviet dan justru lebih banyak ditemukan pada tradisi sosialis libertarian. Ia merumuskan suatu sistem masyarakat ideal ialah yang berlandaskan humanisme dan sosialisme demokrat.
Dalam pandangan Fromm (1955), tatanan masyarakat ideal tersebut dapat terealisasikan apabila tercapai suatu kondisi di mana kontradiksi dan irasionalitas sosial manusia terhapus. Menurut Fromm kedua hal itulah yang telah menjebak seluruh sejarah umat manusia dalam ‘kesadaran palsu’ agar dengan hormat membenarkan dominasi dan ketundukan sehingga eksistensi tatanan sosial tidak berjalan seiring dengan kemampuan pemikiran kritis manusia. Untuk menghapuskan kontradiksi dan irasionalitas sosial, jalan yang harus dilakukan adalah melalui proses penyadaran sosial.
Fromm melihat bahwa hubungan antara struktur sosial dan karakter sosial serta individu tidak pernah statis, unsur tersebut memiliki hubungan sebagai proses yang tidak pernah berakhir. Perubahan pada salah satu faktor berarti perubahan pada keduanya. Struktur sosial masyarakat dapat mempengaruhi pembentukan karakakter sosial anggota-anggotanya, sehingga mereka ingin melakukan apa yang harus mereka lakukan. Pada saat yang bersamaan, karakter sosial mempengaruhi struktur sosial masyarakat dengan jalan berfungsi sebagai sumber perekat yang memperkukuh stabilitas struktur sosial, atau dapat pula sebagai perombak struktur sosial.
Transformasi dari masyarakat yang sakit kepada masyarakat yang sehat menurut Fromm tergantung dari penciptaan kembali kesempatan bagi anggota-anggota masyarakat untuk berjalan bersama, saling mengagumi, saling menyapa, untuk menciptakan orientasi baru dari kehidupan dan dalam budaya mereka. Prinsip perubahan ini menurut Fromm juga selaras dengan apa yang pernah diungkapkan Marx. Fromm menjelaskan bahwa Marx telah mencoba menghancurkan ilusi-ilusi yang cenderung menutupi kesadaran para pekerja mengenai kesengsaraan mereka.
Berangkat dari pikiran-pikiran Marx yang fundamental dan penerapan kebebasan pada manusia, Fromm membawa teori kritis pada pengertian baru tentang kebahagiaan manusia. Kebahagiaan yang ditawarkan oleh industri konsumsi adalah kebahagiaan semu, karena tidak membawa manusia pada pemilikan diri yang tenang, melainkan membuatnya tergantung dari semakin banyak benda; Padahal menurut Fromm (1987) seharusnya kebahagiaan seharusnya ketika manusia being more, bukan having more.
Penyakit peradaban tidak selalu ditentukan oleh kemiskinan material saja, tetapi juga oleh hilangnya semangat kebebasan dan keyakinan diri. Fromm (1955) mengingatkan bahwa gejolak-gejolak yang akan mengubah wajah dunia akan bersemi, tetapi tidak dikarenakan ‘revolusi’ atau ‘reformasi’, melainkan disebabkan kehendak untuk bebas. Individu-individu akan bertindak bersama-sama dengan kesadaran penuh akan ketergantungan mereka satu sama lain, tetapi mereka juga bertindak untuk diri mereka sendiri. Kebebasan mereka tidak diberi dari atas, tetapi mereka akan mengambil apa yang menjadi hak mereka.
Daftar Pustaka
Subono, Nur Iman. (2010). Erich Fromm: Psikologi Sosial Materialis yang Humanis. Jakarta: Kepik Ungu.
Rahmawati, Devie. Dalam Dilema Kebebasan. (2011, 21 April). Kompas, 11.
Habib, Zainal. (2001). Pancasila sebagai Pola Dasar Budaya indonesia dalam Analisis Erich Fromm. Yogyakarta : Program Pascasarjana Universitas Gajah Mada

TEORI ERIKSON

Erik Erikson (1902-1994) mengatakan bahwa terdapat delapan tahap perkembangan terbentang ketika kita melampaui siklus kehidupan. Masing-masing tahap terdiri dari tugas perkembangan yang khas dan mengedepankan individu dengan suatu krisis yang harus dihadapi. Bagi Erikson, krisis ini bukanlah suatu bencana, tetapi suatu titik balik peningkatan kerentanan dan peningkatan potensi.
Semakin berhasil individu mengatasi krisis, akan semakin sehat perkembangan mereka. Berikut adalah beberapa tahap krisis perkembangan menurut Erik Erikson dalam buku Life Span Development oleh John W. Santrok pada tahun 2002:

Kepercayaan dan ketidakpercayaan (trust versus mistrust)

Adalah suatu tahap psikososial pertama yang dialami dalam tahun pertama kehidupan. Suatu rasa percaya menuntut perasaan nyaman secara fisik dan sejumlah kecil ketakutan serta kekuatiran akan masa depan. Kepercayaan pada masa bayi menentukan harapan bahwa dunia akan menjadi tempat tinggal yang baik dan menyenangkan.
Otonomi dengan rasa malu dan keragu-raguan (autonomy versus shame and doubt)
Adalah tahap perkembangan kedua yang berlangsung pada masa bayi dan baru mulai berjalan (1-3 tahun). Setelah memperoleh rasa percaya kepada pengasuh mereka, bayi mulai menemukan bahwa perilaku mereka adalah atas kehendaknya. Mereka menyadari kemauan mereka dengan rasa mandiri dan otonomi mereka. Bila bayi cenderung dibatasi maka mereka akan cenderung mengembangkan rasa malu dan keragu-raguan.
Prakarsa dan rasa bersalah (initiative versus guilt)
Merupakan tahap ketiga yang berlangsung selama tahun-tahun sekolah. Ketika mereka masuk dunia sekolah mereka lebih tertantang dibanding ketika masih bayi. Anak-anak diharapkan aktif untuk menghadapi tantangan ini dengan rasa tanggung jawab atas perilaku mereka, mainan mereka, dan hewan peliharaan mereka. Anak-anak bertanggung jawab meningkatkan prakarsa. Namun, perasaan bersalah dapat muncul, bila anak tidak diberi kepercayaan dan dibuat mereka sangat cemas.
Tekun dan rendah diri (industry versus inferiority)
Berlangsung selama tahun-tahun sekolah dasar. Tidak ada masalah lain yang lebih antusias dari pada akhir periode masa awal anak-anak yang penuh imajinasi. Ketika anak-anak memasuki tahun sekolah dasar, mereka mengarahkan energi mereka pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan intelektual. Yang berbahaya pada tahap ini adalah perasaan tidak kompeten dan tidak produktif.
Identitas dan kebingungan identitas (identity versus identity confusion)
Adalah tahap kelima yang dialami individu selama tahun-tahun masa remaja. Pada tahap ini mereka dihadapkan oleh pencarian siapa mereka, bagaimana mereka nanti, dan ke mana mereka akan menuju masa depannya. Satu dimensi yang penting adalah penjajakan pilihan-pilihan alternatif terhadap peran. Penjajakan karir merupakan hal penting. Orangtua harus mengijinkan anak remaja menjajaki banyak peran dan berbagai jalan. Jika anak menjajaki berbagai peran dan menemukan peran positif maka ia akan mencapai identitas yang positif. Jika orangtua menolak identitas remaja sedangkan remaja tidak mengetahui banyak peran dan juga tidak dijelaskan tentang jalan masa depan yang positif maka ia akan mengalami kebingungan identitas.
Keintiman dan keterkucilan (intimacy versus isolation)
Tahap keenam yang dialami pada masa-masa awal dewasa. Pada masa ini individu dihadapi tugas perkembangan pembentukan relasi intim dengan orang lain. Saat anak muda membentuk persahabatan yang sehat dan relasi akrab yang intim dengan orang lain, keintiman akan dicapai, kalau tidak, isolasi akan terjadi.
Bangkit dan berhenti (generality versus stagnation)
Tahap ketujuh perkembangan yang dialami pada masa pertengahan dewasa. Persoalan utama adalah membantu generasi muda mengembangkan dan mengarahkan kehidupan yang berguna (generality). Perasaan belum melakukan sesuatu untuk menolong generasi berikutnya adalah stagnation
Integritas dan kekecewaan (integrity versus despair)
Tahap kedelapan yang dialami pada masa dewasa akhir. Pada tahun terakhir kehidupan, kita menoleh ke belakang dan mengevaluasi apa yang telah kita lakukan selama hidup. Jika ia telah melakukan sesuatu yang baik dalam kehidupan lalu maka integritas tercapai. Sebaliknya, jika ia menganggap selama kehidupan lalu dengan cara negatif maka akan cenderung merasa bersalah dan kecewa.

Jumat, 08 Juni 2012

Tugas Mini Proyek 2012


Siti Melisa Harahap 11-005
Adinda Andini 11-009
Pritta Astuti Suryaningtyas 11-023


Topik
Peran Motivasi dalam Mewujudkan Prestasi
Judul
Minat dan Motivasi Siswa dalam Proses Belajar di kelas
Pendahuluan
Alasan kami memilih judul “Peran Motivasi Dalam Proses Mewujudkan Keinginan/Prestasi pada anak SMA” adalah  karena kami ingin mengetahui seberapa besar motivasi anak dalam tingkatan belajarnya. Dalam penelitian ini kami juga ingin mengetahui bagaimana proses belajar anak,tingkat jeda waktu belajar dia. Disini kami juga ingin mengetahui apa saja yang menjadi dasar-dasar motivasi keinginan belajar si anak. Motivasi juga sangat berperan penting dalam perkembangan proses belajar si anak. Motivasi belajar bisa datang dari mana aja seperti orangtua,teman,keluarga dan lain sebagainya. Semakin banyak dukungan buat si anak maka semakin besar kemauan anak belajar, dan itu bisa dijadikan motivasi dalam mencapai prestasi yang lebih dari sebelumnya. Dan disini kami akan menjabarkan hasil dari penelitian kami tentang motivasi belajar dari siswa/siswi SMA dalam penelitian yang kami lakukan akan kelihatan besar seberapa besar motivasi belajar seorang anak dalam meningkatkan prestasi belajarnya

Landasan teori
Motivasi Belajar dan Teori Perilaku (Bandura)

Konsep motivasi belajar berkaitan erat dengan prinsip bahwa perilaku yang memperoleh penguatan (reinforcement) di masa lalu lebih memiliki kemungkinan diulang  dibandingkan dengan perilaku yang tidak memperoleh penguatan atau perilaku yang terkena hukuman (punishment). Dalam kenyataannya, daripada membahas konsep motivasi belajar, penganut teori perilaku lebih memfokuskan pada seberapa jauh siswa telah belajar untuk mengerjakan pekerjaan sekolah dalam rangka mendapatkan hasil yang diinginkan (Bandura, 1986 dan Wielkeiwicks, 1995).

Mengapa sejumlah siswa tetap bertahan dalam menghadapi kegagalan sedang yang lain menyerah? Mengapa ada sejumlah siswa yang bekerja untuk menyenangkan guru, yang lain berupaya mendapatkan nilai yang baik, dan sementara itu ada yang tidak berminat terhadap bahan pelajaran yang seharusnya mereka pelajari? Mengapa ada sejumlah siswa mencapai hasil belajar jauh lebih baik dari yang diperkirakan berdasarkan kemampuan mereka dan sementara itu ada sejumlah siswa mencapai hasil belajar jauh lebih jelek jika dilihat potensi kemampuan mereka? Mengkaji penguatan yang telah diterima dan kapan penguatan itu diperoleh dapat memberikan jawaban atas pertanyaan di atas, namun pada umumnya akan lebih mudah meninjaunya dari sudut motivasi untuk memenuhi berbagai kebutuhan.

Penghargaan (Reward) dan Penguatan (Reinforcement)
Suatu alasan mengapa penguatan yang pernah diterima merupakan penjelasan yang tidak memadai untuk motivasi karena motivasi belajar manusia itu sangat kompleks dan tidak bebas dari konteks (situasi yang berhubungan). Terhadap binatang yang sangat lapar kita dapat meramalkan bahwa makanan akan merupakan penguat yang sangat efektif. Terhadap manusia, meskipun ia lapar, kita tidak dapat sepenuhnya yakin apa yang merupakan penguat dan apa yang bukan penguat, karena nilai penguatan dari penguat yang paling potensial sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor pribadi dan situsional.

Penentuan Nilai dari Suatu Insentif
Ilustrasi berikut menunjukkan poin penting: nilai motivasi  belajar dari suatu insentif tidak dapat diasumsikan, karena nilai itu dapat bergantung pada banyak faktor (Chance, 1992). Pada saat guru mengatakan “Saya ingin kamu semua mengumpulkan laporan buku pada waktunya karena laporan itu akan diperhitungkan dalam menentukan nilaimu,” guru itu mungkin mengasumsikan bahwa nilai merupakan insentif yang efektif untuk siswa pada umumnya. Tetapi bagaimanapun juga sejumlah siswa dapat tidak menghiraukan nilai karena orang tua mereka tidak menghiraukannya atau mereka memiliki catatan kegagalan di sekolah dan telah mengambil sikap bahwa nilai itu tidak penting. Apabila guru mengatakan kepada seorang siswa, “Pekerjaan yang bagus! Saya tahu kamu dapat  mengerjakan tugas itu apabila kamu mencobanya!” Ucapan ini dapat memotivasi seorang siswa yang baru saja menyelesaikan suatu tugas yang ia anggap sulit namun dapat berarti hukuman (punishment) bagi siswa yang berfikir bahwa tugas itu mudah (karena pujian guru itu memiliki implikasi bahwa ia harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas itu). Seringkali sukar menentukan motivasi belajar siswa dari perilaku mereka karena banyak motivasi yang berbeda dapat mempengaruhi perilaku. Kadang-kadang suatu jenis motivasi jelas-jelas menentukan perilaku, tetapi pada saat yang lain, ada motivasi lain yang berpengaruh (mempengaruhi) terhadap perilaku belajar siswa.

Tujuan Penelitian
-          Untuk mengetahui sejauh mana motivasi siswa SMA dalam proses belajar dikelas
-          Untuk mengetahui tingkat dan minat belajar siswa SMA
-          Untuk mengetahui tingkat prestasi siswa
Alat-alat dan bahan yang digunakan dalam proses penelitian
-       Kamera
-       Handphone
-        Alat-alat tulis (Buku, kertas dan pena)
-        Laptop
-        Reward
Subjek Penelitian
-          5 orang siswa SMA
Koresponden yang diteliti
Koresponden yang diteliti adalah tentang tingkat motivasi dan minat belajar siswa pada saat pelajaran itu berlangsung yang terjadi di dalam kelas  ,dan memiliki tujuan untuk mengetahui sejauh mana motivasi belajar siswa di kelas khususnya ditingkat SMA (Sekolah Menengah Atas) dengan metode wawancara sebagai acuan kami untuk mendapatkan suatu kesimpulan dari hasil penelitian kami yang berjudul “Minat dan Motivasi Siswa Dalam Proses Belajar Di Dalam Kelas”
Metode yang digunakan
Pengambilan data dilakukan melalui proses  wawancara yaitu dengan bertatap muka serta tanya jawab terhadap koresponden yang telah dipilih secara acak dan yang memiliki prestasi disekolah. .Adapun pertanyaan - pertanyaan yang diajukan dalam angket tersebut adalah:
1.Ketika guru menjelaskan pelajaran ,apakah kamu sering bertanya ketika tidak mengerti ?Lalu apakah kamu mencoba mengulang pelajaran yang telah dijelaskan oleh guru  ketika berada dirumah ?
2.Apa saja kegiatan kamu diluar jam sekolah ?
3.Kapan kamu memiliki jam belajar khusus ?
4.Kamu sebagai seorang siswa lebih sering mengerjakan pekerjaan rumah (PR) disekolah atau dirumah ?
5.Apakah kamu sering melakukan diskusi diluar jam sekolah ?
6.Apakah kamu belajar berdasarkan guru yang kamu suka atau mata pelajaran yang kamu suka ?
7.Pada saat berada di rumah, apakah kamu belajar masih dalam pantauan orang tua ?
8.Cara apa yang biasa kamu lakukan untuk dapat mengerti pelajaran tersebut ?
9.Apa yang akan kamu lakukan jika nilai kamu buruk? Apakah kamu merubah cara belajar kamu atau menambah porsi belajar kamu?
10.Apakah kamu akan termotivasi belajar jika kamu di janjikan oleh orang tua sesuatu?

Proses Analisa dan Kesimpulan
Setelah hasil jawaban dari wawancara diperoleh, maka kami akan mencari sekaligus menarik kesimpulan dari jawaban - jawaban yang diberikan oleh koresponden untuk mendapatkan hasil. Hasil kesimpulannya adalah jawaban yang paling banyak yang didapat dari koresponden.

Penjadwalan Awal yang Telah Direncanakan
No Kegiatan Tanggal Tempat
1.

2.
3.
4.


5.

6.
7.
8.
9.

10.

11.
Pemilihan Topik dan Judul Proyek Mini
Menentukan metode wawancara
Menentukan kebutuhan wawancara
Permohonan surat izin kepada pihak fakultas untuk mengunjungi sekolah yang akan diwawancara
Permohonan izin kepada pihak sekolah untuk wawancara
Membuat pertanyaan wawancara
Membeli kebutuhan wawancara
Pelaksanaan wawancara
Membuat pendahuluan dan landasan teori
Diskusi penyimpulan hasil wawancara dan pembuatan poster
Memposting keseluruhan hasil
25 April 2012

25 April 2012
25 April 2012
7 Mei 2012


11 Mei 2012

12 Mei 2012
16 Mei 2012
16 Mei 2012
19 Mei 2012

21 Mei 2012

1 Juni 2012
Di kampus

Di kampus
Di kampus
Di kampus


Di sekolah

Di kampus
Di majestik
Di sekolah
Di tempat makan

Di kampus

Di rumah




















Kalkulasi biaya dari awal perencanaan hingga evaluasi
Reward untuk siswa : Rp.28.500
Biaya tak terduga     : Rp.99.000
Total                       : Rp.127.500
Jadwal Kegiatan Pelaksanaan Proyek

No Kegiatan Tanggal Tempat
1.
2.
3.
4.


5.

6.
7.
8.
9.
10.

11.
Pemilihan Topik dan Judul Proyek Mini
Menentukan metode wawancara
Menentukan kebutuhan wawancara
Permohonan surat izin kepada pihak fakultas untuk mengunjungi sekolah yang akan diwawancara
Permohonan izin kepada pihak sekolah untuk wawancara
Membuat pertanyaan wawancara
Membeli kebutuhan wawancara
Pelaksanaan wawancara
Membuat pendahuluan dan landasan teori
Diskusi penyimpulan hasil wawancara dan pembuatan poster
Memposting keseluruhan hasil
25 April 2012
25 April 2012
25 April 2012
11 Mei 2012


14 Mei 2012

15 Mei 2012
16 Mei 2012
16 Mei 2012
19 Mei 2012
21 Mei 2012

7 Juni 2012
Di kampus
Di kampus
Di kampus
Di kampus


Di sekolah

Di kampus
Di majestic
Di sekolah
Di tempat makan
Di kampus

Di warnet



Laporan dan evaluasi
Laporan
Setelah kami mendapatkan hasil data dari wawancara yang diisi oleh siswa-siswi SMA Kemala Bhayangkari tersebut kami memperoleh kesimpulan :

1.      Siswa SMA Kemala Bhayangkari jarang bertanya didalam kelas setelah guru menjelaskan.
2.      Kegiatan siswa SMA Kemala Bhayangkari di luar jam sekolah yaitu mengikuti ekskul.
3.      Siswa SMA Kemala Bhayangkari memiliki jam khusus pada malam hari.
4.      Siswa SMA Kemala Bhayangkari lebih sering mengerjakan PR di rumah.
5.      Siswa SMA Kemala Bhayangkari jarang melakukan diskusi di luar jam sekolah
6.      Siswa SMA Kemala Bhayangkari suka belajar berdasarkan guru dan mata pelajaran kesukaannya.
7.      Siswa SMA Kemala Bhayangkari tidak lagi belajar dalam pantauan orang tua di rumah.
8.      Siswa SMA Kemala Bhayangkari bertanya kepada teman jika tidak mengerti pelajaran.
9.      Apabila nilai siswa SMA Kemala Bhayangkari buruk, siswa lebih berusaha dan giat belajar.
10.  Siswa SMA Kemala Bhayangkari termotivasi belajar jika dijanjikan oleh orang tua sesuatu.

Jadi, kesimpulannya siswa SMA Kemala Bhayangkari jarang melontarkan pertanyaan apabila guru sedang menjelaskan pelajaran tertentu dan jarang melakukan diskusi di dalam kelas, tetapi siswa sering bertanya kepada temannya jika pelajaran yang mereka dapati belum dimengerti. Biasanya siswa suka belajar berdasarkan guru dan mata pelajaran yang mereka sukai. Selain itu para siswa memiliki waktu khusus untuk belajar yaitu pada malam hari dimana siswa mengerjakan pr nya dan tanpa pengawasan lagi dari orang tua mereka. Di luar jam sekolah mereka juga sering mengikuti kegiatan tertentu seperti les private, les musik, dan kegiatan ekskul lainnya. Para siswa juga lebih giat dan termotivasi belajarnya disaat nilai mereka mulai memburuk serta apabila diiming-imingi atau dijanjikan sesuatu oleh orang tuanya.

Evaluasi
No. Kegiatan Tanggal Perencanaan Tanggal Pelaksanaan Tempat
1.

2.

3.

4.



5.

 6.

7.

8.
9.

10.


11.
Pemilihan Topik dan Judul Proyek Mini
Menentukan metode wawancara
Menentukan kebutuhan wawancara
Permohonan surat izin kepada pihak fakultas untuk mengunjungi sekolah yang akan diwawancara
Permohonan izin kepada pihak sekolah untuk wawancara
Membuat pertanyaan wawancara
Membeli kebutuhan wawancara
Pelaksanaan wawancara
Membuat pendahuluan dan landasan teori
Diskusi penyimpulan hasil wawancara dan pembuatan poster
Memposting keseluruhan hasil
25 April 2012

25 April 2012

25 April 2012

7 Mei 2012



11 Mei 2012

 12 Mei 2012

16 Mei 2012

16 Mei 2012
19 Mei 2012

21 Mei 2012


1 Juni 2012
25 April 2012

25 April 2012

25 April 2012

11 Mei 2012



14 Mei 2012

 15 Mei 2012

16 Mei 2012

16 Mei 2012
19 Mei 2012

21 Mei 2012


7 Juni 2012
Di kampus

Di kampus

Di kampus

Di kampus



Di sekolah

Di kampus

Di majestik

Di sekolah
Di tempat makan

Di kampus


Di warnet

Poster
Testimonial Anggota
Siti Melisa Harahap (11-005)
Pertama kali saya mendengar tugas proyek mini ini saya langsung berpikiran segala hal yang rumit. Karena tugas ini langsung terjun ke lapangan dan berhadapan dengan orang-orang yang baru. Mungkin kalau tugas ini bukan tugas perkelompok dari awal sampai akhir saya pasti akan kebingungan. Tetapi karena dengan teman-teman sekelompok yang saling membantu akhirnya tugas ini selesai juga.  Dan saya rasa yang paling penting adalah kekompakkan dari satu tim.
Setelah dijalani semuanya ternyata asumsi saya mengenai kerumitan proyek mini adalah salah. Kalau dengan niat pasti semuanya pasti akan terasa lebih cepat. Dan dari tim kami sendiri mungkin hanya jadwal waktu saja yang membuat kami agak lama mengerjakannya. Terima kasih buat teman-teman yang sudah membantu kami dalam penyelesaian tugas proyek mini ini. Dan saya juga mengucapkan terima kasih kepada pihak sekolah SMA Kemala Bhayangkari yang sudah membantu kami mengerjakan tugas ini dan juga kepada Ibu Dina yang memberikan tugas ini sebagai gambaran untuk skripsi dan sebuah pengalaman yang sangat membantu saya ke depannya :)

Adinda Andini (11-009)
Menurut saya ini pengalaman yang sangat menantang bagi saya ,karna saya di tuntut untuk lebih peka ,lebih aktif serta lebih bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas mini proyek ini . Kesulitan yang saya dan kelompok saya dapatkan adalah kendala waktu yang bentrok dengan  jadwal mata kuliah kami dengan pihak sekolah yang akan kami wawancara  .Tetapi hal ini membuat kami tertantang dan  lebih mengefisiensi waktu.Saya sangat bersyukur dengan semua tantangan yang telah diberikan kepada kami ,kami dapat melewatinya dengan baik walaupun sedikit ada hambatan tetapi kami bisa menutupinya dengan saling bekerja sama antara satu dengan yang lain karna setiap anggota kelompok kami saling membantu dan memiliki porsi yang sama dalam penyelesaian tugas mini proyek mini tersebut.Saya perwakilan dari kelompok ingin mengucapkan terima kasih kepada ibu Dina karna telah memberi kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan tugas mini proyek tersebut .Hanya ini yang bisa saya ucapkan ,apab
ila ada kekurangan mohon dimaafkanTerima kasih .
Pritta Astuti Suryaningtyas (11-023)
Ini adalah tugas lapangan pertama yang saya lakukan dari semua mata kuliah yang saya  jalani, pertama kali juga untuk turun ke lapangan untuk meneliti secara langsung. Awalnya saya merasa sangat sulit dalam melakukan tugas ini. Karena sebelum melakukan mini proyek ini dosen pengampuh tidak memberi pengarahan yang jelas terlebih dahulu. Tetapi dengan terjun langsung ke lapangan, saya bisa nanyak langsung dan bertatapan muka dengan narasumber. Dengan bertatapan muka langsung saya juga bisa melihat secara langsung apa reaksi mereka ketika menjawab  semua pertanyaan.  Dengan adanya tugas proyek mini saya bisa belajar bagaimana ketika mendapatkan tugas praktek lapangan,hal-hal apa saja yang harus dilakukan ketika turun lapangan. Yang membuat tugas ini agak repot mungkin cara pengerjaan nya yang terlalu rumit. Tugas proyek mini ini mengajarkan saya bagaimana kondisi ketika harus turun ke lapangan secara langsung.


Kamis, 07 Juni 2012

Manfaat Yoga bagi Kesehatan Tubuh



manfaat yoga Manfaat Yoga diketahui telah terbukti secara ilmiah untuk kesehatan tubuh kita. Penyakit-penyakit berat diyakini dapat dikontrol jika kita melakukan dengan teratur. Waktu terbaik melakukan latihan ini adalah saat fajar atau bisa saja kita mempraktekkannya larut malam. Dianjurkan dilakukan saat perut kita sedang kosong dan berada pada tempat yang bersih serta sirkulasi udara yang baik. Selain itu, lingkungan juga harus bebas dari segala gangguan, tidak berisik. Tidak lupa pakaian yang digunakan juga sebaiknya yang nyaman. Tidak perlu memakai alas kaki. Dan satu hal yang penting yaitu menjadikan latihan ini sebagai suatu kebiasaan kita.

Yoga Bermanfaat untuk Kesehatan Fisik

Dengan melakukan latihan yang bisa dikatakan memiliki nilai seni ini, kita bisa mengambil manfaat untuk fisik tubuh kita. Manfaat dari yoga secara fisik sendiri meliputi fleksibilitas, kekuatan, mengembangkan otot, dan mencegah nyeri. Dengan melakukan gerakan-gerakan yang dapat membantu meregangkan dan meningkatkan fleksibilitas tubuh, kelenturan tubuh kita akan meningkat. Beberapa pose juga mengharuskan kita harus menopang berat dari tubuh. Oleh karena itu jika melakukan latihan dengan perpindahan satu pose ke pose lain akan meningkatkan pula kekuatan kita. Dengan peningkatan fleksibilitas serta kekuatan dari tubuh kita tentunya akan mencegah sakit punggung. Hal lain dari manfaat yoga secara fisik adalah pengencangan otot serta peningkatan dari massa otot.

Manfaat Yoga untuk Kesehatan Mental

Bentuk latihan ini memang menekankan tingkat konsentrasi yang tinggi. Dengan konsentrasi tinggi, tentunya memiliki pengaruh positif terhadap ketenangan pikiran. Teknik meditasi merupakan kunci dari penenangan pikiran. Tentunya hal ini dapat mengurangi serta mencegah terjadinya stres. Selain itu jika kita lakukan secara teratur, manfaat yoga akan berkembang menjadi kearah peningkatan kesadaran serta kesiagaan tubuh.

Yoga Untuk Si Kecil

Tidak hanya untuk dewasa, anak kecil pun dapat melakukan latihan yoga ini. Pendekatan yang dilakukan tentunya berbeda. Anak kecil cenderung diajak untuk bermain. Jika dilakukan dengan rutin tentunya perkembangan serta pertumbuhan mereka akan mendapatkan dampak positif. Anak tentunya masih berada dalam masa pertumbuhan, sehingga akan berperan pada otot, tulang, mobilitas gerak motorik kasar serta fleksibilitas mereka. Selain itu, kinerja dari hormon tubuh menjadi lebih seimbang. Mengenai fungsi secara kognitif tentunya diharapkan mampu melatih memori serta konsentrasi mereka. Gerakan yang mengharuskan dilakukan secara kontinyu dan berulang-ulang menjadi kuncinya. Satu hal utama yang bisa ditekankan adalah membantu anak untuk belajar berpikir meniru gerakan dengan benar. Bagi anak kecil meniru gerakan memang membutuhkan kreativitas. Jika latihan ini dilakukan dengan baik serta secara teratur juga diharapkan peran dari orang tua. Pendampingan orang tua atau jika perlu mereka melakukan bersama ibu akan menjaga hubungan dekat antara orang tua dan anak. Dengan adanya pendampingan diharapkan juga manfaat yoga semakin bisa dirasakan oleh si kecil.

Sumber : www.kesehatan123.com

CARL GUSTAV JUNG


Jung dilahirkan pada tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil dan meninggal pada tanggal 6 Juni 1961 di Kusnach, Swiss. Ia lulus dari Fakultas kedokteran Universitas Basle pada tahun 1900. Pada tahun 1923 ia berhenti menjadi dosen untuk mengkhususkan dirinya dalam riset-riset. Sejak 1906 ia mulai tulis menulis surat kepada Sigmund Freud yang baru dijumpainya pertama kali setahun kemudian yakni tahun 1907. Pertemuan yang terjadi di Wina tersebut sangat mengesankan kedua belah pihak, sehingga terjadi tali persahabatan antara mereka. Freud begitu menaruh kepercayaan kepada Jung, sehingga Jung dianggap sebagai orang yang patut menggantikan Freud di kemudian hari (Sarlito Wirawan Sarwono, 1978: 186-187).

Carl Gustav Jung adalah murid Sigmund Freud. Freud adalah adalah penggagas psikoanalisa yang merupakan seorang Jerman keturunan Yahudi. Ia dilahirkan pada tanggal 6 Mei 1865 di Freiberg, dan pada masa bangkitnya Hitler ia harus melarikan diri ke Inggris dan meninggal di London pada tanggal 23 September 1939 (Sarlito Wirawan Sarwono, 1978: 175).

Meskipun mengambil beberapa pendapat gurunya, ia tidak sepenuhnya sependapat dengan Freud, terutama karena gurunya tersebut terlalu menekankan pada seksualitas dan berorientasi terhadap materialistis dan biologis di dalam menjelaskan teoriteorinya


Doktrin Jung

Doktrin Jung yang dikenal dengan psikologi analitis (analytical psychology), sangat dipengaruhi oleh mitos, mistisisme, metafisika, dan pengalaman religius (Yadi Purwanto, 2003: 121). Ia percaya bahwa hal ini dapat memberikan keterangan yang memuaskan atas sifat spiritual manusia, sedangkan teori-teori Freud hanya berkecimpung dengan hal-hal yang sifatnya keduniaan semata. (Carl Gustav Jung, 1989: 10.)

Jung mendefinisikan kembali istilah-istilah psikologi yang dipakai pada saat itu, khususnya yang dipakai oleh Freud. Ego, menurut Jung, merupakan suatu kompleks yang terletak di tengah-tengah kesadaran, yakni keakuan.

Istilah Freud lainnya yang didefinisikannya kembali adalah libido. Bagi Jung, libido bukan hanya menandakan energi seksual, tetapi semua proses kehidupan yang penuh energi: dari aktivitas seksual sampai penyembuhan (Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 92).

Id, ego, dan superego, adalah istilah istilah yang tak pernah dipakai oleh Jung. Sebagai gantinya, ia menggunakan istilah conciousness (kesadaran), personal unconciousness (ketidaksadaran pribadi), dan collective unconciousness (ketidaksadaran kolektif

Conciousness dan personal unconciousness sebagian dapat diperbandingkan dengan id dan ego, tetapi terdapat perbedaan yang sangat berarti antara superego-nya Freud dengan collective unconciousness, karena Jung percaya bahwa yang terakhir ini adalah wilayah kekuatan jiwa (psyche) yang paling luas dan dalam, yang mengatur akar dari empat fungsi psikologis, yaitu sensasi, intuisi, pikiran, dan perasaan. Selain itu, juga mengandung warisan memori-memori rasial, leluhur dan historis.

Untuk dapat mengerti aspek-aspek metafisik dalam teori mimpi Jung, menurut penulis kita harus menelusuri dan memahami berbagai terma yang biasa dipakai oleh Jung di dalam menguraikan teori mimpinya.

Archetype dan Autonomous Complex

Dalam psikologi Jung, ketidaksadaran kolektif dapat terdiri atas komponen komponen dasar kekuatan jiwa yang oleh Jung disebut sebagai archetype. Archetype merupakan konsep universal yang mengandung elemen mitos yang luas. Konsep archetype ini sangat penting dalam memahami simbol mimpi karena ia menjelaskan kenapa ada mimpi yang memiliki makna universal, sehingga bisa berlaku bagi semua orang. Dan ada pula mimpi yang sifatnya pribadi dan hanya berlaku untuk orang yang bermimpi saja. Jung memandang archetype ini sebagai suatu autonomous complex, yaitu suatu bagian dari kekuatan jiwa yang melepaskan diri dan bebas dari kepribadian. Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 92)

Bagi Jung pandangan Freud terlalu menjagokan pandangan seksualitas dan orientasi yang mekanistis-biologis. Jung mengajak psikolog untuk meyakini asumsi dasar yang berbeda, ia menyatakan bahwa manusia selalu terkait erat dengan mitos, hal mistis, metafisis, dan pengalaman religius.

Jung melihat manusia sebagai makhluk biologis yang jiwanya berkait erat dengan pola-pola primordial. Manusia memang memiliki aspek kesadaran dan ketidaksadaran bahkan kumpulan kolektif ketidaksadaran yang berbeda dengan dorongan Id menurut Freud. Dengan adanya ketidaksadaran kolektif, manusia memiliki sifat universal dalam hal sensasi, suara qalbu, pikiran dan perasaan.

Argumentasi yang diajukan adalah bahwa manusia memiliki nenek moyang yang sama, ras keturunan dari satu induk dan dengan demikian memiliki akar historis yang relatif sama. Evolusi manusia tidak sepenuhnya menghilangkan dasar memori yang terwariskan dari nenek moyang.

Jung menyatakan hal tersebut sebagai arketif-arketif (archetypes) yang menjadi dasar dari jiwa manusia.

Persona

Personal autonomous complex atau archetype dipandang oleh Jung sebagai bagian dari dari kekuatan jiwa. Ia menyebutnya sebagai persona, bayang-bayang, anima, dan animus (Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 87-88). Hal-hal inilah yang muncul dalam mimpi, dalam bentuk figur-figur yang dikenal atau tidak dikenal oleh orang yang bermimpi.

Persona adalah wajah yang ditampilkan oleh individu. Persona merupakan kepribadian yang sadar, yang dapat diidentikkan dengan ego-nya Freud. Dalam mimpi, ia muncul dalam bentuk sesosok figur yang melambangkan aku dalam suasana tertentu. Kadang-kadang, dapat berupa seorang tua yang keras, wanita bijak, orang gagah, badut, atau anak kecil. Inilah perilaku dari dari pikiran penghasil mimpi kita. Kadang kala, dalam mimpi, hal ini akan diimbangi dengan sebuah karakter yang memainkan peran yang berlawanan. Contohnya, seseorang yang dalam keadaan sadar sebagai sosok yang bermoral, ketika di dalam mimpi bisa jadi berupa seorang bajingan atau sebaliknya.

Bayang-bayang

Sisi kuat dari kepribadian seorang individu biasanya mendominasi seluruh persona. Aspek-aspek yang lebih lemah dominasinya hanya menjadi bayangbayang diri. Jung mengistilahkannya dengan autonomous complex atau archetype yang lain, yang muncul ke permukaan di dalam mimpi. Kadang-kadang, naluri dan desakan diwujudkan dalam bentuk bayang-bayang, bersama perasaan perasaan negatif dan destruktif. Ia dapat berupa satu sosok yang mengancam, yang menyamar sebagai seseorang yang tidak disukai oleh orang-orang yang bermimpi.

Satu cara untuk mengenali bayang-bayang figur di dalam sebuah mimpi adalah dengan mengamati reaksi dan perasaan kita yang paling negatif terhadap seseorang atau suasana tertentu, karena hal yang paling tidak kita sukailah yang membentuk inti dari bayangan tersebut.

Anima dan Animus

Anima dan animus adalah istilah yang dibuat oleh Jung untuk menggambarkan karakteristik dari seks yang berlawanan, yang ada dalam setiap diri laki-laki dan perempuan. Anima adalah sifat kewanitaan yang tersembunyi di dalam diri laki-laki, sedangkan animus adalah sifat kelaki-lakian yang tersembunyi dalam diri perempuan (Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 94-96).

Anima adalah pusat kasih sayang, emosi, naluri, dan intuisi dari sisi kepribadian laki-laki. Archetype ini merupakan bentuk kolektif dari seluruh perempuan yang dikenali oleh seorang laki-laki dalam hidupnya, khususnya ibunya sendiri. Bergabungnya sifat tersebut ke dalam kepribadiannya memungkinkan seorang laki-laki untuk mengembangkan sisi sensitif dari tabiatnya, sehingga memungkinkannya untuk menjadi individu yang tidak terlalu agresif, baik hati, hangat dan penuh pengertian. Memungkiri atau menekan anima
mengakibatkan timbulnya sifat keras kepala, keras, kaku, dan bahkan kejam secara fisik maupun emosi.

Animus adalah sisi praktis, independen, percaya diri, dan keberanian mengambil resiko dari kepribadian wanita. Sebagai sebuah archetype, hal ini merupakan bentuk kolektif dari seluruh laki-laki yang dikenal oleh seorang wanita di dalam hidupnya, terutama ayahnya sendiri. Bergabungnya sifat ini ke dalam memungkinkan dirinya untuk menjadi seorang pemimpin, pengelola yang baik, dan pencari nafkah. Namun, jika seorang wanita mengabaikan aspek-aspek ini dalam dirinya, maka ia menjadi cengeng, tergantung, cerewet, dan tidak aman.


Dengan adanya kesepakatan terhadap archetype ini, memungkinkan lakilaki dan wanita dapat memahami dengan lebih baik terhadap lawan jenisnya. Hal ini juga akan memberdayakan mereka untuk memperluas dan mengembangkan kemampuan mereka secara maksimal. Munculnya anima atau animus dalam mimpi seseorang menunjukkan integrasi kepribadian. Oleh Jung, integrasi ini disebut sebagai proses individuasi (Carl Gustav Jung, 1989: 16-17)


Diri yang "Ideal"

Diri, sebagai sebuah archetype mewakili tabiat ideal dan spiritual dari lakilaki dan wanita. Ketika diri muncul di dalam mimpi, biasanya menunjukkan bahwa proses individuasi telah selesai. Dalam mimpi seorang laki-laki, diri muncul sebagai laki-laki tua yang bijak. Dalam mimpi seorang wanita, figur ini berwujud ibu yang agung. Masing-masing dari figur ini memiliki empat aspek yang mewakili empat sifat dari kekuatan jiwa, yakni kecerdasan, emosi, kepraktisan, dan intuisi. Namun sifat-sifat ini juga memiliki aspek positif dan negatifnya (Carl Gustav Jung, 1989: 10).

Keempat aspek ganda dari kewanitaan dan kelelakian tersebut membentuk karakteristik archetype dasar dari seorang individu. Jarang sebuah aspek mendominasi sepenuhnya, namun bila hal itu sampai terjadi, maka dikenali sebagai eksentrisitas. Keseimbangan di antara keempat sifat yang posiif tadi perlu diusahakan, ditambah dengan pengenalan terhadap empat karakteristik yang berlawanan, yang dapat muncul dalam keadaan tertentu

Figur-figur archetype simbolis

Figur-figur yang muncul didalam mimpi mewakili sifat-sifat yang tersembunyi di dalam diri kita. Ini dapat disimbolkan dengan benda atau tokoh. Misalnya, laba-laba betina yang suka menyantap pejantannya ( jenis Black Widow ), menggambarkan aspek negatif dari ibu atau istri. Dongeng tentang pangeran dan puteri yang hidup berbahagia sampai akhir masa, Cinderella, dan Putri Salju, adalah gambaran sifat-sifat romantis. Ketika kita sedang mencari pasangan lain jenis, citra-citra inilah yang menyamar di alam tidur kita, seperti kata ungkapan " pria dan wanita impian" (Kohnsamm dan B.G Palland, 1984: 94 - 96).

Bagi Jung mimpi adalah upaya memanipulasi reaksi terhadap lingkungan dengan persona sebagai pemeran subyek dalam mimpi. Persona dalam mimpi dapat berwujud berbagai bentuk: figur ibu, laki-laki, perempuan ataupun seribu wajah. Persona memang dapat bersandiwara memerankan arketif, berupa bayangbayang (the shadow). Mimpi adalah gambaran adanya arketif-araketif purbakala, seolah-olah mimpi merupakan arena menemukan kembali jati diri kuno sebelum berevolusi. Jika kita mengikuti pendapat Jung, maka boleh jadi seorang bayi yang tidur sambil tersenyum, menggambarkan ia sedang bermimpi hidup di surga, suatu alam sebelum ia lahir ke bumi, karena bagi Jung mimpi indah adalah bayang-bayang pengalaman surgawi.

Terdapat pula bayang-bayang yang terbentuk dari insting hewani yang terproyeksikan dalam simbol-simbol tertentu. Sebagai misal: perasaan bersalah (dosa) diproyeksikan dalam bentuk mimpi tentang kejahatan atau musuh. Salah satu cara untuk mengenali figur yang digambarkan oleh bayangan dalam mimpi, kita perlu memeriksa reaksi yang paling negatif atau positif perasaan kita pada orang dan lingkungan di sekitar kita, baik figur ayah maupun ibu.

Pemilihan simbol-simbol mimpi dapat berasal dari lingkungan internal dan eksternal. Simbol yang diperoleh dari luar merupakan simbol yang berhasil direkam oleh individu, simbol-simbol ini mudah untuk dimaknai karena terjadi dalam tataran kesadaran. Berbeda dengan simbol-simbol yang diperoleh dari internal, yakni kumpulan kolektif-ketidaksadaran, akan melahirkan mimpi yang mistis, aneh, dan karena tidak biasa menganggapnya sebagai omong kosong.

Kenyataannya, di dalam mimpi kita melakukan komunikasi dengan diri kita sendiri. Bahasa yang kita pergunakan tidaklah harus simbolik, melainkan imajinatif yang sangat kuno yang hanya dimengerti dengan bahasa sensasi, pikiran, emosi, dan memori kejiwaan arketif.
Simbol-simbol arketif ini relatif sama bagi semua manusia, karena kita mengalami masalah kehidupan yang sama, kecemasan, kesulitan, ambisi, keinginan, frustasi, insting, dan dorongan yang kesemuanya diwakili oleh bahasa imajinasi yang sama.

Sumber :psikologicenterblogspot.com

BLENDED LEARNING

Perkembangan internet dalam satu dasawarsa terakhir ikut memengaruhi metode pembelajaran. Salah satu metode baru yang menyebar luas di dunia pendidikan barat, seperti Amerika, Inggris, dan Australia adalah metode pembelajaran yang dikenal sebagai “Blended Learning”.

Blended Learning secara sederhana dapat didefinisikan sebagai perpaduan metode belajar tatap muka (di dalam kelas) dengan materi yang diberikan secara online. Metode ini sangat efisien karena selain mahasiswa bisa mendapatkan perkuliahan tatap muka dengan dosen di dalam kelas, mereka juga bisa mengakses materi yang diberikan secara online di manapun mereka berada.

Secara umum ada dua alasan mengapa metode ini perlu dikembangkan di perguruan tinggi, terkait dengan pendidikan dan bisnis. Dari segi pendidikan, Blended Learning akan memberikan dua keuntungan, baik untuk pengajar maupun mahasiswa melalui istilah yang disebut dengan “differentiated instruction” (perbedaan instruksi) dan “pacing and attendance” (kenyamanan dan kehadiran).

Differentiated instruction melibatkan pembelajaran yang didesain untuk mahasiswa. Dalam hal ini, pengajar akan menentukan muatan kurikulum, lingkungan dan aktivitas pembelajaran yang bisa diberikan secara online dan tatap muka berdasarkan tingkat kesukaran, minat dan gaya belajar mahasiswa.

Pengajar juga menentukan kapan saatnya mahasiswa bekerja secara kelompok di dalam komunitas belajar dan bisa juga menambahkan materi yang tidak tersedia di dalam modul online dan sulit dipahami untuk diajarkan secara tatap muka.

Berikutnya, pada “pacing and attendance” mahasiswa secara mandiri bisa menentukan kapan saatnya belajar. Jika mereka tidak bisa hadir di dalam kelas, dikarenakan sakit misalnya, mereka masih bisa melihat beberapa materi yang tertinggal yang diberikan secara tatap muka dengan mengaksesnya secara online, sehingga mereka masih bisa tetap aktif terlibat dan tidak ketinggalan materi dari temannya.

Dilihat dari segi bisnis, Blended Learning bisa menjadi prospek masa depan mengingat metode ini dapat menghemat biaya. Baik institusi ataupun mahasiswa, keduanya diuntungan dengan metode ini.

Sebagai contohnya, berapa budget yang harus dikeluarkan oleh sebuah institusi dalam sekali perkuliahan yang diadakan secara tatap muka? Nah, Blended Learning ini dapat menjadi alternatif untuk menghemat pengeluaran yang dibutuhkan dalam setiap kali pembelajaran tatap muka seperti biaya untuk akomodasi dosen (makan, transport, hotel, honorarium) dan kebutuhan lain yang diperlukan dalam perkuliahan  tatap muka (listrik dan jumlah gedung/ruangan yang dibutuhkan).

Sementara  mahasiswa juga mendapat keuntungan yang  sama. Mereka bisa mengerjakan aktivitas yang lain seperti browsing dan hunting buku, atau bahkan mereka bisa tetap aktif bekerja. Lebih lanjut, mahasiswa juga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk bisa hadir di dalam perkuliahan tatap muka.

Riset yang dilakukan Universitas Central Florida menunjukkan keberhasilan mahasiswa yang belajar dengan metode Blended Learning menduduki peringkat pertama (51%) dibandingkan dengan online penuh (48,3%) ataupun tatap muka di dalam kelas (48,2%).

Metode ini sudah jelas akan dirasakan manfaatnya oleh semua komponen perguruan tinggi, seperti Universitas, fakultas, dan mahasiswa. Pihak Universitas bisa menjadikan Blended Learning ini sebagai strategi kompensasi akan terbatasnya ruang kelas yang dimiliki untuk pembelajaran secara tatap muka.

Disamping itu, metode ini dapat digunakan sebagai cara untuk mendorong agar tercipta kolaborasi antar fakultas didalam mewujudkan visi dan misi universitas.

Metode ini juga sangat cocok bagi fakultas untuk mengembangkan dan menanamkan keterlibatan mahasiswa akan perkuliahan yang diadakan karena mahasiswa harus aktif mengikuti perkembangan yang terjadi di dalam kampusnya.

Selanjutnya, Blended Learning ini dapat dijadikan sebagai jembatan dalam masa transisi antara pembelajaran secara tatap muka di kelas dan pembelajaran yang diberikan secara online sepenuhnya.

Dan yang terakhir, Blended Learning ini sangat bermanfaat untuk mahasiswa karena metode ini menawarkan kenyamanan belajar yang diberikan secara online dan tatap muka. Ketika mahasiswa kurang mengerti akan suatu pokok permasalahan, mereka bisa mendiskusikannya secara langsung di dalam kelas ataupun secara online.

Tentu saja untuk mencapai kesuksesan penerapan metode tersebut diperlukan akses dan koneksi internet yang cepat.  Maka dari itu, perlu ada kerja sama antara provider jasa internet dan pihak universitas.

Sumber :Kompas.com